4 jenis Sekar di Bali lengkap dengan jenis dan contohnya

- Author

Jumat, 27 Januari 2023 - 04:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kawruhbasa.com – Jika dalam bahasa Jawa lagu disebut tembang, maka dalam bahasa Bali di sebut Sekar, meskipun orang Jawa sendiri juga sering menyebutnya seperti itu. Pada masyarakat Jawa tembang di bagi menjadi 3 (tiga) yang masing-masing memiliki watak, namun di bali Sekar di bagi menjadi 4 (empat), yaitu:

  1. Sekar Rare
  2. Sekar Alit
  3. Sekar Madia
  4. Sekar Agung

Persamaan antara tembang dan sekar sebagai lagu tradisional di Bali biasanya dinyanyikan dengan titi laras slendro dan pelog.

Aga lebih jelas, mari kita ulas lebih jauh dari setiap sekar di atas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

sekar di bali

1. Sekar Rare

Sekar Rare disebut pula gegendingan. Sekar jenis ini tidak menggunakan atau memiliki alunan seperti tembang lainnya. Sifatnya lugu dan polos, dan syairnya menggunakan bahasa Bali apa adanya (umum).

Dilihat dari usianya, sekar rarel adalah tembang tertua di Bali. Ciri lain dari sekar ini adalah tidak memiliki aturan baku yang jelas hingga sekarang.

Sekar ini biasanya dinyanyikan dengan menyesuaikan suara gong yang mayoritas bernada (laras) pelog. Sekar rare dibagi menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu;

  1. Gending Rare : biasa dinyanyikan anak-anak ketika mereka bermain. Sekar Gending jenis ini melukiskan perasaan ceria, bahagia, atau senang. Sebagai contoh; Guak Maling Taluh, Meong-Meong, Juru Pencar, Ongkek-ongke, Uncung-Uncung Semanggi.
  2. Gending Janger : biasa dinyanyikan oleh penari janger dan kecak pada tarian sebuah janger. Gending jenis ini menggunakan bahasa Bali kapara yang melukiskan perasaan gembira. Pada perkembangannya Gending ini juga dinyanyikan dalam tarian genjek. Sebagai contoh; Embok Nyoman dan Don Dapdap.
  3. Gending Sanghyang : biasa dinyanyikan oleh penari Sang Hyang. Tujuan dinyanyikannya sekar ini adalah untuk memuja dan mengundang dewa agar merasuki penari Sang Hyang. Contoh; Gending Sang Hyang Dedari.

Baca juga Mengenal Tembang Macapat: Sejarah, Makna, dan Keindahan

2. Sekar Alit

Alit jika dalam bahasa Jawa artinya kecil, maka di Bali disebut pupuh atau macapat. Seperti halnya tembang, sekar alit juga diikat oleh aturan padalingsa, guru wilangan dan guru dingdong.

Guru dingdong adalah huruf vokal (bunyi vokal) yang terdapat pada setiap akhir suku kata tiap-tiap baris dalam satu bait. Padalingsa tiap pupuh dapat dijelaskan pada masing-masing pupuh. Wangun atau bagian tembang yang termasuk Sekar alit di Bali ada kurang lebih 14 pupuh, yaitu:

  1. Pupuh Adri
  2. Pupuh Dangdang
  3. Pupuh Demung
  4. Pupuh Durma
  5. Pupuh Gambuh
  6. Pupuh Ginada
  7. Pupuh Ginanti
  8. Pupuh Maskumambang
  9. Pupuh Megatruh
  10. Pupuh Mijil
  11. Pupuh Pangkur
  12. Pupuh Pucung
  13. Pupuh Sinom
  14. Pupuh Semarandana

3. Sekar Madia

Sekar sekar madia atau madya jika dalam bahasa Jawa artinya tengah, yang biasa juga disebut kidung. Sekar jenis ini merupakan tembang yang menggunakan bahasa Jawa Kuno, Jawa Tengahan dan Bali Alus, yaitu bahasa yang biasa digunakan pada lontar-lontar panji atau malat.

Berbeda dengan sekar alit yang terikat oleh padalingsa, guru wilangan dan guru dingdong, sekar madya tidak terlalu terikat oleh hal-hal tersebut. Namun menggunakan beberapa macam bagian seperti Pembuka (Pengawit), Tengah (Pengawak), Pendek (Pemawak), dan Panjang (Penawa).

Yang termasuk ke dalam sekar Madya adalah Kidung atau Kakidungan, yang sering dinyanyikan pada puncak upacara keagamaan yang bersifat sakral. Beberapa jenis kidung yang ada di Bali antara lain:

  1. Kidung Tantri
  2. Kidung Alis-alis Ijo
  3. Kidung Wargasari
  4. Kidung Kawitan Wargasari
  5. Kidung Aji Kembang
  6. Kidung Kaki Tua
  7. Kidung Sidapaksa
  8. Demung
  9. Malat
  10. Puh Jerum

4. Sekar Agung

Sekar agung jika dalam lagu Jawa kemungkinan sejajar dengan tembang gedhe. Adapun yang termasuk dalam tembang ini adalah Kekawin, yaitu puisi Bali klasik yang biasa terdapat dalam sastra Jawa kuno.

Dengan melihat syairnya, kekawin banyak menggunakan bahasa Sanskerta yang disesuaikan dengan bahasa sekarang. Dalam sekar agung terdapat beberapa aturan (dalam bahasa Bali disebut uger-uger). Yang termasuk jenis Kekawin antara lain: Guru, laghu, wretta, dan matra.

Demikian yang dapat kami sampaikan mengenai contoh Sekar rare di bali lengkap dengan jenis dan penjelasannya, semoga bermanfaat bagi anda yang membutuhkan. Kunjungi kawruhbasa.com untuk mendapatkan update terbaru kami mengenai pembelajaran bahasa Jawa, atau ikuti kami di Google News

Berita Terkait

Rahasia wayang kulit yang jarang diketahui orang
11 Motif Batik Surakarta dan Yogyakarta Serta Fungsi dan Maknanya
Tradisi Pernikahan Jawa: Simbolisme, Adat, dan Keunikan
Asal Usul Gamelan: Sejarah dan Perkembangan Musik Tradisional Indonesia
Mengenal Birama dalam Musik: Sejarah, Jenis, Penggunaan, dan Tips Bermain
Mengenal Tembang Macapat: Sejarah, Makna, dan Keindahan
Menelusuri Kesenian Tradisional Jawa Melalui Macapat Gambuh
Tembang Maskumambang lengkap dengan 11 contoh dan artinya
Berita ini 229 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 12 Agustus 2023 - 14:41 WIB

Rahasia wayang kulit yang jarang diketahui orang

Rabu, 10 Mei 2023 - 08:26 WIB

11 Motif Batik Surakarta dan Yogyakarta Serta Fungsi dan Maknanya

Rabu, 8 Maret 2023 - 00:01 WIB

Tradisi Pernikahan Jawa: Simbolisme, Adat, dan Keunikan

Senin, 6 Maret 2023 - 11:14 WIB

Asal Usul Gamelan: Sejarah dan Perkembangan Musik Tradisional Indonesia

Senin, 6 Maret 2023 - 09:12 WIB

Mengenal Birama dalam Musik: Sejarah, Jenis, Penggunaan, dan Tips Bermain

Senin, 27 Februari 2023 - 00:33 WIB

Mengenal Tembang Macapat: Sejarah, Makna, dan Keindahan

Minggu, 26 Februari 2023 - 16:04 WIB

Menelusuri Kesenian Tradisional Jawa Melalui Macapat Gambuh

Minggu, 26 Februari 2023 - 12:40 WIB

Tembang Maskumambang lengkap dengan 11 contoh dan artinya

Berita Terbaru

Bahasa Jawa

Apa bahasa Kramane ibu lunga menyang pasar?

Minggu, 17 Mar 2024 - 22:37 WIB

Bahasa Jawa

Sejarah Bahasa Kraton Jawa Kuno

Sabtu, 16 Mar 2024 - 00:32 WIB

Bahasa Jawa

Basa Bagongan, bahasa Jawa dalam kalangan istana

Jumat, 15 Mar 2024 - 22:01 WIB

Bahasa Jawa

Basa Krama Desa Bahasa Jawa yang terkesan memaksakan kata

Jumat, 15 Mar 2024 - 10:34 WIB