Bebasan Bahasa Jawa, ciri, 88 contoh, dan maknanya

- Author

Jumat, 27 Januari 2023 - 14:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kawruhbasa.comBebasan yaiku unen-unen kang gumathok, ajeg panggonane, ngemu rasa pepindhan sing dipindhanake pakarti utawa kahanan uwong. Dalam bahasa Indonesia, bebasan adalah ungkapan pasti, penggunaannya tetap, mengandung makna perumpamaan tingkah laku atau keadaan seseorang.

Tembung bebasan merupakan bentuk folklor lisan yang sudah ada sejak jaman dahulu yang secara otomatis ditiru secara turun temurun.

Di dalam bahasa Indonesia bebasan mirip atau sama dengan peribahasa yang mempunyai arti kiasan, bersifat tetap, dan mengandung ungkapan pengandaian. Selain bebasan, dalam bahasa Jawa masih ada dua istilah lagi yang termasuk dalam golongan peribahasa yaitu paribasan dan saloka. Ketiga peribahasa tersebut masing-masing memiliki ciri khasnya sendiri, sehingga bisa dibedakan antara satu dengan lainnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pelajari juga 30 Contoh Rura Basa, bahasa Jawa salah kaprah yang masih umum digunakan

Ciri-ciri khusus bebasan

contoh bebasan

Seperti telah disinggung di atas bahwa bebasan memiliki ciri-ciri khusus sebagai berikut:

  • memiliki arti konotatif (kiasan)
  • sifatnya tetap tidak berubah
  • mengandung makna pepindhan atau ungkapan pengandaian (ngemu surasa pepindhan), sedangkan yang diumpamakan adalah keadaan, tingkah laku, atau sifat seseorang.

88 contoh bebasan

Agar anda lebih memahami bagaimana bentuk bebasan, maka di sini kami berikan contoh lengkap dengan artinya dalam bahasa Indonesia.

1. Ancik-ancik pucuking eri (berdiri di atas duri)

Maknanya : orang yang hidupnya penuh dengan marabahaya/kekhawatiran

2. Ati bengkong oleh oncong (hati melengkung oleh oncong)

Maknanya : duwe sedya ora oleh dalan. (Punya keinginan tidak dapat jalan untuk mewujudkannya)

3. Awak pendhek budi ciblek (badan pendek budi kecil)

Maknanya : wong asor, budine uga asor. (Orang yang rendah derajatnya, tingkah lakunya juga rendah)”

4. Bathok bolu isi madu (tempurung berlubang 3 berisi madu)

Maknanya : wong asor ning sugih kepinteran. (Orang yang terlihat jelek atau rendah, tetapi kaya ilmu)

5. Cengkir ketindhihan kiring (buah kelapa yang masih kecil tertimpa keranjang)

Maknanya : Nedya omah-omah kepeksa durung bisa, merga sedulure tuwa durung omah-omah. (Punya niat berumah tangga tetapi terpaksa belum terlaksana, karena saudara tuanya belum menikah)

6. Cikal atopas limar

Maknanya : tekane kabegjan kang mokal. (Menunggu keberuntungan yang tidak mungkin).

7. Gedhang apupus cindhe

Maknanya : kabegjan kang ngayawara, prakara kang mokal. (keberuntungan yang tidak mungkin)

8. Geni pinanggang (Api dipanggang)

Maknanya : lagi nesu banjur ketambahan wadul, mula tambah nesune. (sedang marah ditambah omongan/laporan, maka marahnya semakin menjadi-jadi)

9. Idu didilat maneh (ludah dijilat lagi)

Maknanya : njabel kasaguhan kang wis dikandhakake. (mencabut janji/omongan yang pernah dikatakan)

10. Idu geni (ludah api)

Maknanya : kabeh saguneme digugu ing wong. (Apa yang dikatakan selalu di ikuti orang)

Pelajari juga Keratabasa Bahasa Jawa yang populer sepanjang masa

11. Jamur tuwuh ing waton (jamur tumbuh di batu)

Maknanya : samubarang kang langka lan mokal. (Sesuatu yang langka dan tidak mungkin terjadi)

12. Jurang growah ora mili (jurang dalam tidak ada air)

Maknanya : katone loma nanging cethil (Kelihatannya murah hati/dermawan, ternyata pelit)

13. Kejugrukan gunung menyan (terkena longsoran gunung kemenyan)

Maknanya : oleh begja gedhe (mendapat keberuntungan besar)

14. Mburu uceng kelangan deleg

Maknanya : nyoyak barang sepele, kelangan barang sik luwih aji (mengejar barang sepele, kehilangan barang yang lebih berharga)

15. Nabok nyilih tangan (menampar meminjam tangan)

Maknanya : tumindak ala sarana kongkonan wong liya (bertindak kejelekan dengan menggunakan tenaga orang lain)

16. Ngempakne watu item

Maknanya : ngremehake perkara (meremehkan masalah)

17. Ngobak-obak banyu bening (membuat keruh air jernih)

Maknanya : gawe rusuh ana papan sing tentrem (membuat keonaran di tempat yang tentram)

18. Sedhakep ngawe-awe (sedhekap melambaikan tangan)

Maknanya : Katone meneng sejatine tuduh-tuduh marang penggawe ala (kelihatannya diam, tetapi memberi tahu terhadap tindakan kejelekan)

19. Sumur lumaku tinimba (Sumur berjalan di ambil airnya)

Maknanya : wong kang kumudu-kudu dijaluki warah (orang yang harus diminta ilmunya)

20. Abang-abang lambe (merah-merah bibir)

Maknanya : bicara basa-basi

21. Adol lenga keri busike.

Maknanya : orang yang membagi-bagikan barang tetapi dia sendiri malah tidak kebagian.

22. Ana bapang sumimpang

Maknanya : menghindari semua hal yang berbahaya

23. Ana begjane ora ana daulate

Maknanya : mau mandapatkan keuntungan tetapi belum atau hampir mendapatkan keuntungan/hal yang diinginkan.

24. Anirna patra

Maknanya: menghindari tulisannya sendiri yang tidak baik

25. Angin silem ing warih

Maknanya : bertindak buruk atau berbuat buruk secara diam-diam.

26. Aji godhong jati garing

Maknanya: orang yang rendah/buruk sekali tidak berharga diri sama sekali.

27. Anggenthong umos

Maknanya: orang yang tidak bisa menyimpan rahasia.

28. Asor kilang nunggwing gelas

Maknanya: orang yang tutur katanya manis sehingga membuat siapa pun yang mendengarkan tertarik/terpikat.

29. Arep jamure emoh watangane

Maknanya: mau enaknya tidak mau susahnya.

30. Bapak kesulah anak molah

Maknanya: jika orang tua mendapat masalah, anak juga akan ikut merasakan dan ikut bertanggung jawab).

31. Anak polah bapa kepradah (termasuk paribasan)

Maknanya: jika anak punya keinginan, orang tua berusaha membantu mewujudkannya

32. Barung sinang

Maknanya: memotong pembicaraan orang atau menyela-nyela obrolan orang.

33. Dalithuk kukum

Maknanya: berusaha lari dari hukuman.

34. Beguguk ngutha waton

Maknanya: membangkang perintah tidak mau bergerak.

35. Beras wutah arang mulih marang takere

Maknanya: sesuatu yang sudah berubah dari asal mulanya mustahil bisa pulih seperti sediakala.

36. Diwenehi ati ngrogoh rempela

Maknanya: sudah diberi yang enak tetapi masih kurang puas dan meminta yang lebih enak lagi.

37. Dikempit kaya wade, dijuju kaya manuk

Maknanya: sesuatu yang sangat dicintai.

38. Dikena iwake aja nganti buthek banyune

Maknanya: menginginkan sesuatu agar tercapai jangan sampai membuat masalah atau keributan.

39. Dudu berase ditempurake

Maknanya: ikut nyambung pembicaraan orang tetapi tidak sesuai dengan yang dibahas.

40. Durung ilang pupuk lempuyange

Maknanya: masih terlalu muda.

41. Emban cindhe emban ciladan

Maknanya: pilih kasih atau tidak adil antara satu dengan yang lainnya.

42. Esuk dhele sore tempe

Maknanya: gampang berubah pikiran, tidak konsisten.

43. Genteni watang putung

Maknanya: mewarisi jabatan orang yang sudah meninggal.

44. Gawe luwangan ngurugi luwangan

Maknanya: orang yang meminjam uang untuk menutup utang.

45. Guyonan dadi tangisan

Maknanya: hanya bercanda tetapi menjadi sunguh-sungguh.

46. Gemblung jinurung, edan kuwarisan

Maknanya: berbuat nekat tetapi malah beruntung.

47. Gendhon rukon

Maknanya: melakukan tindakan bersama-sama demi kebaikan bersama.

48. Golek-golek ketanggor wong luru-luru

Maknanya: mau berbuat jahat, kemudian bertemu dengan orang yang berbuat jahat pula.

49. Gondhelan poncoting tapih

Maknanya: menggantungkan hidup pada istri.

50. Gotong mayit

Maknanya: bepergian hanya bertiga melewati tempat yang angker/berbahaya.

Pelajari juga 4 jenis Tembung Camboran Bahasa Jawa, pengertian dan contohnya

51. Gupak pulut ora mangan nangkane

Maknanya: ikut berjuang atau ikut merasakan susahnya namun tidak menikmati hasilnya.

52. Njagakake endhoge si blorok

Maknanya: berharap sesuatu yang belum pasti.

53. Nyundhang bathang bantheng

Maknanya: menjunjung keturunan orang yang luhur yang sedang apes.

54. Kadang konang

Maknanya: mengaku-ngaku saudara jika kaya dan banyak harta.

55. Ketepang ngrangsang gunung

Maknanya: orang miskin yang memiliki cita-cita yang mustahil tercapai.

56. Kaya banyu karo lenga

Maknanya: hubungan persaudaraan yang tidak bisa hidup rukun.

57. Kakehan gludhug ora udan

Maknanya: orang yang banyak bicara tetapi kenyataannya kosong atau hanya omong kosong.

58. Kebak luber kocak kacik

Maknanya: orang yang mengalami gangguan jiwa karena kebanyakan ilmu.

59. Kebanjiran segara madu

Maknanya: orang yang mendapatkan keberuntungan besar bertubi-tubi.

60. Kegedhen empyak kurang cagak

Maknanya: orang yang berkeinginan tinggi tetapi tidak memiliki sarana pendukung.

61. Kekudhung walulang macan

Maknanya: orang yang berlindung dibalik orang yang disegani atau penguasa.

62. Kerot tanpa untu

Maknanya: orang yang memiliki keinginan tetapi tidak memiliki sarana.

63. Karubuhan gunung

Maknanya: orang yang sedang mengalami masalah besar.

64. Kocak tandha lokak

Maknanya: orang yang banyak bicara biasanya sedikit ilmu.

65. Kongsi jambul wanen

Maknanya: ikatan persaudaraan yang berlangsung sampai tua.

66. Rebutan balung tanpa isi

Maknanya: berebut hal sepele yang tidak ada manfaatnya.

67. Mbalung usus

Maknanya: orang yang mempunyai kemauan tidak pasti atau kadang kuat, kadang lemah.

68. Mbrojol selaning garu

Maknanya: orang yang berhasil lepas dari bahaya/musibah yang menimpa.

69. Ngasalake negara

Maknanya: orang yang tidak menuruti peraturan.

70. Ngangsu banyu nganggo kranjang

Maknanya: orang yang mencari ilmu tetapi ilmunya tidak dimanfaatkan atau orang yang mencari ilmu dengan sarana yang tidak tepat.

71. Nglungguhi klasa gumelar

Maknanya: orang yang menerima warisan dan tinggal menerima enaknya saja.

72. Nguthik-uthik macan turu

Maknanya: membuat marah orang terpandang yang tadinya diam saja.

73. Nuthuk lor kena kidul

Maknanya: orang yang melakukan sesuatu kepada seseorang tetapi yang terkena adalah orang lain.

74. Nguyahi segara

Maknanya: orang yang memberi sesuatu kepada orang yang sudah kaya, sehingga pemberiannya tidak berguna.

75. Nututi layangan pedhot

Maknanya: orang yang berusaha mencari barang yang sepele, jika tercapai tidak sepadan dengan usahanya.

76. Nyangoni kawula minggat

Maknanya: orang yang memperbaiki barang yang mudah rusak.

77. Nyugokake bugel kayu sempu

Maknanya: orang yang menjagokan orang bodoh menjadi pemimpin karena masih saudara sendiri.

78. Othak-athik didudut angel

Maknanya: orang yang cara bicaranya terlihat enak didengar, tapi ternyata susah diatasi/dilayani.

79. Ora uwur ora sembur

Maknanya: tidak mau ikut memberi partisipasi apa-apa.

80. Pandengan karo srengenge

Maknanya: orang yang bermusuhan dengan orang yang mempunyai kekuasaan.

81. Ramban-ramban tanggung

Maknanya: orang yang mendakwa kepada seseorang tetapi tidak disampaikan/diutarakan.

82. Rindhik asu digitik

Maknanya: orang yang melakukan pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya.

83. Rubuh-rubuh gedhang

Maknanya: orang yang hanya ikut-ikutan, sebenarnya tidak tahu tujuannya.

84. Sandhing kebo gupak

Maknanya: orang yang dekat dengan orang-orang jahat yang pada akhirnya tertular jahat.

85. Sandhing kirik gudhigen

Maknanya: orang yang dekat dengan orang yang buruk kelakuannya pada akhirnya tertular kelakuan buruk.

86. Suduk gunting tatu loro

Maknanya: orang yang melakukan pekerjaan yang selalu tidak tepat atau serba salah, sehingga memiliki banyak kesalahan.

87. Wis kebak sundukane

Maknanya: orang yang sudah memiliki banyak dosa dan kesalahan.

88. Cebol nggayuh lintang

Maknanya: menginginkan sesuatu yang mustahil

Pelajari juga Tembung Garba Bahasa Jawa: Pengertian, Fungsi, Jenis dan 57+ Contohnya

Kesimpulan

Dengan memperhatikan contoh di atas, maka kita dapat mengetahui bahwa bebasan pengertian sederhananya adalah kalimat perumpamaan atau konotatif, yang biasanya diumpamakan sesuatu yang jauh dari arti sebenarnya. Untuk jaman sekarang, dalam kehidupan sehari-hari jarang terdengar, namun pada pertunjukan tradisi seperti wayang kulit, masih selalu digunakan.

Demikian yang dapat kami sampaikan mengenai bebasan, semoga menambah wawasan baru yang lebih mendalam. Selalu kunjungi KawruhBasa.com untuk mendapatkan update terbaru artikel pembelajaran bahasa Jawa, atau ikuti kami di Google News

Berita Terkait

Contoh undangan pernikahan bahasa Jawa pengantin wanita
Wangsalan: pengertian, jenis dan 22 contoh kalimatnya
Bahasa Jawa kecewa dan artinya
Arti loro ati bahasa Jawa
Apa bahasa Kramane ibu lunga menyang pasar?
Sejarah Bahasa Kraton Jawa Kuno
Basa Bagongan, bahasa Jawa dalam kalangan istana
Basa Krama Desa Bahasa Jawa yang terkesan memaksakan kata
Berita ini 403 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 20 Mei 2024 - 23:36 WIB

Contoh undangan pernikahan bahasa Jawa pengantin wanita

Jumat, 10 Mei 2024 - 22:50 WIB

Wangsalan: pengertian, jenis dan 22 contoh kalimatnya

Sabtu, 4 Mei 2024 - 14:46 WIB

Bahasa Jawa kecewa dan artinya

Sabtu, 4 Mei 2024 - 13:07 WIB

Arti loro ati bahasa Jawa

Sabtu, 16 Maret 2024 - 00:32 WIB

Sejarah Bahasa Kraton Jawa Kuno

Jumat, 15 Maret 2024 - 22:01 WIB

Basa Bagongan, bahasa Jawa dalam kalangan istana

Jumat, 15 Maret 2024 - 10:34 WIB

Basa Krama Desa Bahasa Jawa yang terkesan memaksakan kata

Kamis, 14 Maret 2024 - 21:28 WIB

Arti “Gemati” kosakata Bahasa Jawa yang artinya lebih dari sekedar perhatian

Berita Terbaru

Bahasa Jawa

Contoh undangan pernikahan bahasa Jawa pengantin wanita

Senin, 20 Mei 2024 - 23:36 WIB

Bahasa Jawa

Wangsalan: pengertian, jenis dan 22 contoh kalimatnya

Jumat, 10 Mei 2024 - 22:50 WIB

Bahasa Jawa

Bahasa Jawa kecewa dan artinya

Sabtu, 4 Mei 2024 - 14:46 WIB

Bahasa Jawa

Arti loro ati bahasa Jawa

Sabtu, 4 Mei 2024 - 13:07 WIB

Uncategorized

Apa yang dimaksud Kawruh Basa?

Sabtu, 20 Apr 2024 - 07:48 WIB