Tembang Pangkur: Pengertian, Fungsi, Watak, 10 contoh, rumus dan artinya

- Author

Minggu, 29 Januari 2023 - 12:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kawruhbasa.com – Tembang Pangkur dalam lagu Jawa termasuk dalam lagu Macapat yang diciptakan oleh Sunan Drajat. Pangkur dalam bahasa Jawa merujuk pada kata mungkur, yang jika dalam bahasa Indonesia bisa diartikan pensiun.

Orang Jawa menggambarkan manusia yang sudah berumur (sepuh/tua) seharusnya sudah mungkur (menjauhi) hawa nafsu dan kepentingan duniawi, sebaliknya harus lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Hal ini bukan tak beralasan, orang Jawa sadar sepenuhnya bahwa tidak lama lagi mereka akan meninggal dunia menghadap Sang Pencipta. Jika dalam cerita pewayangan mereka akan mendhita (pandhita/resi), menyepi ke gunung atau tempat sepi lainnya.

Pengertian Pangkur

Tembang Pangkur

Tembang pangkur adalah tembang macapat yang diciptakan Sunan Drajat, bersifat tegas, gagah, bergairah, semangat, ketulusan hati, keyakinan kuat dan ajakan kepada manusia untuk berbuat kebaikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Masyarakat Jawa menggunakan tembang pangkur untuk media memberikan nasehat dan petunjuk, namun penyampaiannya tidak langsung, tetapi melalui sindiran yang sifatnya halus.

Jika mau mengamati secara seksama, Pangkur akan membawa kita lebih mampu menyadari jalannya kehidupan. Selain itu, bagi kawula muda akan memberi dampak besar dalam memahami makna kehidupan yang lebih mendalam.

Di jaman sekarang ini, kita sering mendengar para sindhen maupun penyanyi campur melantunkan bawa pangkur, namun sudah jarang yang mengamati lebih mendalam apa isi dan makna dari tembang tersebut.

Pelajari juga 3 Tembang Jawa: Jenis, Watak, Sasmita, lan Tuladha yang harus Anda ketahui

Fungsi Tembang Pangkur

Isi dari tembang pangkur merupakan sebuah karya sastra berbentuk macapat yang mendorong manusia agar menengok keburukan masa lalunya, untuk kemudian pada akhir tembang mereka diajak untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mulai mengesampingkan keduniawian.

Tembang yang diciptakan oleh Sunan Drajat dengan menggunakan bahasa Jawa yang terdengar indah. Penataan kata dan kalimatnya sangat menarik, karena bernilai sastra tinggi. Terkadang bahasanya dibolak-balik untuk menghindari tuduhan atau menyakiti orang yang membacanya.

Nilai yang terkandung dalam Tembang Pangkur

Dari penciptanya, macapat pangkur dibuat bukan tanpa maksud dan makna. Sunan Drajat bermaksud memberikan nasehat bahwa manusia yang sudah tua pada akhirnya akan meninggal dunia untuk menghadap Yang Maha Kuasa. Meskipun beliau memberikan nasehat, tetapi tidak mau langsung mengenai hati baik pembaca maupun pendengarnya.

Dikutip dari “Nilai-Nilai Moral Islami dalam Serat Wulang Reh” Endang Nurhayati, bahwa tembang Pangkur memiliki watak keras, jengkel, marah, dan galak.

Dalam pupuh tembang ini memuat nilai-nilai antara lain sebagai berikut:

  1. Sebagai makhluk ciptaan-Nya, manusia harus mampu membedakan baik dan buruk, mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan.
  2. Hidup manusia harus dilandasasi hal-hal berikut:
    • Deduga: dalam menjalani hidup manusia harus berhati-hati dalam segala tindakannya.
    • Prayoga: artinya baik, jadi kehati-hatian mempertimbangkan segala tindakan harus menuju kebaikan.
    • Warata: yaitu mempertimbangkan kemungkinan buruk dari apa yang akan dikerjakan.
    • Reringa: berhati-hati dalam menghadapi segala sesuatu yang belum jelas atau meyakinkan.
  3. Manusia harus menjauhi perbuatan maksiat dan membuang watak berikut:
    • durjana: jahat/culas
    • murka: serakah
    • drengki (dengki): sakit hati karena melihat keberuntungan orang lain
    • srei: berkeinginan menang terhadap keberuntungan orang lain
    • dora: pembohong
    • iren: selalu iri
    • meren: iri hati
    • dahwen: suka mencela
    • panasten: panas hatinya melihat orang lain berhasil
    • open: ingin memiliki hak orang lain
    • kumingsun: merasa dirinya terhebat
    • jail: suka menggangu orang lain
    • methakil: mendzalimi orang lain
    • besiwit: suka mengungkit kejelekan orang lain.
  4. Manusia harus mengendalikan nafsu:
    • aluamah: keinginan hati
    • amarah: nafsu angkara murka
  5. Manusia harus menjauhi watak pembohong seperti :
    • lunyu: tidak berketetapan hati
    • clemer: berkeinginan memiliki hak orang lain
    • genjah: tak dapat dipercaya
    • angrong prasanakan: menggangu istri orang lain
    • nyumur gumuling: tak dapat menyimpan rahasia
    • mbuntut ari: baik di muka, buruk di belakang

Watak Tembang Pangkur

Penciptaan tembang macapat merupakan gambaran perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga menuju kematian. Macapat terdiri dari 11 yang mana masing-masing memiliki perwatakan yang tersirat pada setiap cakepan pupuhnya. Bagi yang ingin mengetahui apa saja macamnya, silahkan baca jenis tembang macapat.

Dari 11 macam tembang tersebut, tembang pangkur memiliki karakter dan watak khasnya sendiri, yaitu: tegas, gagah, bergairah, semangat, ketulusan hati, keyakinan kuat dan mengajak seseorang mempersiapkan masa depannya.

Dalam bahasa Jawa watak macapat pangkur yaiku: sereng, mathuke kanggo crita kang ngemu surasa sereng, sajak gregeten. Yen wujud pitutur sing sereng semu srengen, uga kanggo carita perang.

Contoh Tembang Pangkur

Ada banyak sekali tembang macapat, di sini akan kami berikan beberapa contoh pupuh (bait) dari Serat Wedhatama dan Wulangreh yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Serat Wedhatama

Cakepan (lirik) tembang pangkur yang biasa dipakai untuk gerong dan sindhenan. Dipetik dari buku Serat Wedhatama, karya K.G.P.A.A. Mangkunegoro IV.

Bait (Pupuh) 1

  1. Mingkar mingkuring angkara (artinya: Menahan diri dari nafsu angkara)
  2. Akarana karanan mardi siwi (artinya: karena berkenan mendidik putra)
  3. Sinawung resmining kidung (artinya: disertai indahnya tembang)
  4. Sinuba sinukarta (artinya: dihias penuh sedemikian rupa)
  5. Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung (artinya: agar menjiwai tujuan ilmu luhur)
  6. Kang tumrap neng tanah Jawa (artinya: yang berlaku di tanah Jawa)
  7. Agama ageming aji (artinya: agama sebagai pakaian perbuatan)

Bait (Pupuh) 2

  1. Jinejer neng Wedatama (artinya: Disajikan dalam serat Wedatama)
  2. Mrih tan kemba kembenganing pambudi (artinya: agar jangan miskin pengetahuan)
  3. Mangka nadyan tuwa pikun (artinya: walaupun tua pikun)
  4. Yen tan mikani rasa (artinya: jika tidak memahami rasa)
  5. Yekti sepi asepa lir sepah samun (artinya: niscaya sepi tanpa guna, bagai ampas, percuma)
  6. Samangsane pasamuan (artinya: pada tiap pertemuan)
  7. Gonyak ganyuk nglilingsemi (artinya: sering bertindak ceroboh, memalukan)

Bait (Pupuh) 3

  1. Nggugu karsaning priyangga (artinya: Mengikuti kemauan sendiri)
  2. Nora nganggo peparah lamun angling (artinya: Bila berkata tanpa pertimbangan)
  3. Lumuh ing ngaran balilu (artinya: Tak mau dianggap bodoh)
  4. Uger guru aleman (artinya: Asal gemar dipuji-puji)
  5. Nanging janma ingkang wus waspadeng semu (artinya: sebaliknya ciri orang yang sudah cermat akan ilmu)
  6. Sinamun ing samudana (artinya: justru selalu merendah diri)
  7. Sesadon ingadu manis (artinya: selalu berprasangka baik)

Bait (Pupuh) 4

  1. Si pengung nora nglegewa (artinya: Si bodoh tidak mengira)
  2. Sangsayarda denira cacariwis (artinya: semakin banyak bicara)
  3. Ngandhar-andhar angendukur (artinya: omongannya ke mana-mana)
  4. Kandhane nora kaprah (artinya: omongannya tidak semestinya)
  5. Saya elok alangka longkangipun (artinya: semakin indah tak bersela)
  6. Si wasis waskitha ngalah (artinya: si pintar dan bijaksana mengalah)
  7. Ngalingi marang sipingging (artinya: menutupi kebodohannya)

Bait (Pupuh) 5

  • Mangkono ilmu kang nyata (artinya: begitulah ilmu yang nyata)
  • Sanyatane mung weh reseping ati (artinya: kenyataan yang membahagiakan hati)
  • Bungah ingaran cubluk (artinya: senang dikatakan bodoh)
  • Sukeng tyas yen den ina (artinya: merendah ketika dihina)
  • Nora kaya si punggung anggung gumunggung (artinya: tidak seperti si bodoh)
  • Ugungan sadina dina (artinya: membual sehari-hari)
  • Aja mangkono wong urip (artinya: orang hidup janganlah begitu)

Serat Wulangreh

Cakepan tembang pangkur di bawah ini biasa dipakai untuk gerong dan sindhenan, dipetik dari buku Serat Wulangreh, Karya Sinuhun Paku Buwono IV.

Bait (Pupuh) 1

  • Sekar Pangkur kang Winarna (artinya: Tembang Pangkur yang diceritakan)
  • Lelabuhan kang kangge wong aurip (artinya: Pengabdian yang berguna untuk orang hidup)
  • Ala lan becik punika (artinya: Jelek dan baik itu)
  • Prayoga kawruhana (artinya: Sebaiknya kamu ketahui)
  • Adat waton punika dipun kadulu (artinya: Adat istiadat itu hendaknya dilaksanakan)
  • Miwah ingkang tatakrama (artinya:Juga yang berupa tata krama)
  • Den kaesthi siyang ratri (artinya: Dilaksanakan siang dan malam)

Bait (Pupuh) 2

  • Deduga lawan prayoga (artinya: Pertimbangan mana yang lebih utama)
  • Myang watara reringa aywa lali (artinya: Serta mengukur akibat perbuatan, jangan dilupakan)
  • Iku parabot satuhu (artinya: Itu pedoman sejati)
  • Tan kena tininggala (artinya: Jangan ditinggalkan)
  • Tangi lungguh angadeg tuwin lumaku (artinya: Bangun, duduk, berdiri, dan berjalan)
  • Angucap meneng anendra (artinya: Berbicara, diam, maupun tidur)
  • Duga-duga nora kari (artinya: Pertimbangan jangan ditinggalkan)

Bait (Pupuh) 3

  1. Miwah ta sabarang karya (artinya: Demikian juga dalam setiap pekerjaan)
  2. Ing prakara kang gedhe lan kang cilik (artinya: Baik perkara yang besar maupun perkara yang kecil)
  3. Papat iku aja kantun (artinya: Empat hal itu jangan ditinggalkan)
  4. Kanggo sadina-dina (artinya: Juga pada setiap waktu sehari-hari)
  5. Rina wengi nagara miwah ing dhusun (artinya: Baik siang atau malam, dalam urusan negara atau di pedusunan)
  6. Kabeh kang padha ambegan (artinya: Oleh karena itu bagi semua yang masih bernapas)
  7. Papat iku aja lali (artinya: Keempat hal tersebut jangan dilupakan)

Bait (Pupuh) 4

  1. Kalamun ana manungsa (artinya: Jika ada manusia)
  2. Anyinggahi dugi lawan prayogi (artinya: Yang mengabaikan pertimbangan keutamaan)
  3. Iku watake tan patut (artinya: Itu tabiat yang tak pantas)
  4. Awor lawan wong kathah (artinya: Berbaur dengan orang banyak)
  5. Wong degsura ndaludur tan wruh ing edur (artinya: orang yang kurang ajar melantur tak mengerti perbuatan buruk)
  6. Aja sira cedhak-cedhak (artinya: Janganlah engkau terlalu dekat)
  7. Nora wurung neniwasi (artinya: Pasti akan mencelakakan)

Bait (Pupuh) 5

  • Pan wus watake manungsa (artinya: Memang sudah watak manusia)
  • Pan ketemu ing laku lawan linggih (artinya: Akan terlihat dalam tingkah laku sehari-hari)
  • Solah muna-muninipun (artinya: Dari pembawaan dan cara berbicara
  • Pan dadi panengeran (artinya: Akan menjadi tanda/ciri)
  • Kang apinter kang bodho miwah kang luhur (artinya: Yang pintar, yang bodoh serta yang mulia)
  • Kang sugih lan kang melarat (artinya: Yang kaya, yang miskin)
  • Tanapi manusa singgih (artinya: Maupun yang dermawan)

Pelajari juga 4 jenis Sekar di Bali lengkap dengan jenis dan contohnya

Guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan Tembang Pangkur

Guru gatra, guru lagu, dan guru wilangan merupakan pedoman atau rumus tetap dan tidak boleh dirubah dalam tembang macapat, termasuk dalam tembang Pangkur. Dengan melihat contoh di atas kita dapat dengan mudah mengetahui ketiganya dengan mudah.

Guru gatra tembang Pangkur

Guru gatra yaiku cacahing gatra ing saben pada (banyaknya jumlah baris dalam satu bait) ing tembang macapat. Sebagai contoh bait ke-2 pada serat wedhatama di atas:

  1. Jinejer neng Wedatama
  2. Mrih tan kemba kembenganing pambudi
  3. Mangka nadyan tuwa pikun
  4. Yen tan mikani rasa
  5. Yekti sepi asepa lir sepah samun
  6. Samangsane pasamuan
  7. Gonyak ganyuk nglilingsemi

Penjelasan: bisa dilihat bahwa satu bait tembang di atas terdiri dari 7 baris (ditandai dengan nomor). Jadi, kesimpulannya guru gatra tembang pangkur adalah 7 (tujuh).

Guru lagu tembang Pangkur

Guru lagu yaiku tibaning swara ing saben pungkasaning gatra. (Guru lagu adalah bunyi suara (huruf) vokal dari setiap akhir baris tembang). Sebagai contoh bait ke-3 pada serat wedhatama di atas:

  1. Nggugu karsaning priyangga
  2. Nora nganggo peparah lamun angling
  3. Lumuh ing ngaran balilu
  4. Uger guru aleman
  5. Nanging janma ingkang wus waspadeng semu
  6. Sinamun ing samudana
  7. Sesadon ingadu manis

Penjelasan: dengan memperhatikan satu bait lirik di atas dapat kita ketahui guru lagu dari tembang pangkur yang ditandai dengan huruf vokal yang ditebalkan. Jika masih kurang jelas, perhatikan penjelasan di bawah ini:

  1. baris 1 = a
  2. baris 2 = i
  3. baris 3 = u
  4. baris 4 = a
  5. baris 5 = u
  6. baris 6 = a
  7. baris 7 = i

Jadi kesimpulannya Guru lagu tembang Pangkur adalah : a, i, u, a, u, a, i

Guru wilangan tembang Pangkur

Guru wilangan yaiku cacahing wanda ing saben gatra (Guru wilangan adalah jumlah suku kata dalam setiap baris). Sebagai contoh kita ambil bait ke-4 pada serat wedhatama di atas:

  1. Kalamun ana manungsa
  2. Anyinggahi dugi lawan prayogi
  3. Iku watake tan patut
  4. Awor lawan wong kathah
  5. Wong degsura ndaludur tan wruh ing edur
  6. Aja sira cedhak-cedhak
  7. Nora wurung neniwasi

Penjelasan: dari 7 baris tembang di atas dapat kita lihat bahwa guru wilangannya (suku kata) sebagai berikut:

  1. Baris 1: Ka – la – mun – a – na – ma- nung – sa = 8 suku kata
  2. Baris 2: A – nying – ga – hi – du – gi – la – wan – pra – yo – gi = 11 suku kata
  3. Baris 3: I – ku – wa – ta – ke – tan – pa – tut = 8 suku kata
  4. Baris 4: A – wor – la – wan – wong – ka – thah = 7 suku kata
  5. Baris 5: Wong – deg – su – ra – nda – lu – dur – tan – wruh – ing – e – dur = 12 suku kata
  6. Baris 6: A – ja – si – ra – ce – dhak – ce – dhak = 8 suku kata
  7. Baris 7: No – ra – wu – rung – ne – ni – wa – si = 8 suku kata

Jadi dapat disimpulkan bahwa guru wilangan tembang pangkur adalah 8, 11, 8, 7, 12, 8, 8.

Kesimpulan

Tembang pangkur adalah tembang macapat yang diciptakan Sunan Drajat, berwatak tegas, gagah, bergairah, semangat, ketulusan hati, keyakinan kuat dan ajakan kepada manusia untuk berbuat kebaikan. Guru gatra: 7 (baris), lagunya a, i, u, a, u, a, i, dan guru wilangan 8, 11, 8, 7, 12, 8, 8.

Yang sering ditanyakan

Apa saja contoh tembang pangkur?

Di atas telah dijelaskan 10 bait contoh yang dipetik dari serat Wedhatama dan serat Wulangreh. Silahkan lihat kembali.

Apa isi tembang pangkur?

Mengandung petuah dan ajakan untuk berbuat kebaikan dan lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Berapa jumlah baris tembang pangkur?

7 baris.

Apa Wae ciri tembang pangkur?

Guru gatra: 7 (baris), lagunya a, i, u, a, u, a, i, dan guru wilangan 8, 11, 8, 7, 12, 8, 8.

Guru gatra tembang pangkur ada berapa?

Ada 7 gatra (baris)

Demikian yang dapat kami sampaikan mengenai contoh tembang Pangkur, semoga menambah manfaat bagi anda yang membutuhkan. Selalu kunjungi kawruhbasa.com untuk mendapatkan artikel terbaru kami, atau ikuti kami do Google News

Berita ini 364 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 29 Januari 2023 - 12:41 WIB

Tembang Pangkur: Pengertian, Fungsi, Watak, 10 contoh, rumus dan artinya

Berita Terbaru

Bahasa Jawa

4 jenis Tembung Camboran Bahasa Jawa, pengertian dan contohnya

Senin, 27 Mei 2024 - 16:23 WIB

Bahasa Jawa

Keratabasa Bahasa Jawa yang populer sepanjang masa

Senin, 27 Mei 2024 - 16:23 WIB

Seni Budaya

4 jenis Sekar di Bali lengkap dengan jenis dan contohnya

Senin, 27 Mei 2024 - 16:22 WIB

Tanya Jawab

101 Nama Buah dalam Bahasa

Senin, 27 Mei 2024 - 16:18 WIB