Nama Hari, Pasaran, Wuku, Bulan, Bilangan, Waktu, Arah, Anak, Saudara, Keturunan, dan Watak

- Author

Senin, 3 Juni 2024 - 10:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kawruhbasa.comArane (aran) dalam bahasa Indonesia sama artinya dengan sebutan. Orang Jawa memiliki sebutan sendiri mengenai dina (hari), pasaran (hari pasaran), wuku, sasi (bulan), wilangan (angka), wayah (waktu), kiblat, bocah (anak), sedulur (saudara), turun (silsilah), dan watak (perwatakan).

Diera modern ini, arane masing-masing yang kami sebutkan di atas sudah jarang digunakan. Sebagai contoh hari pasaran, kalau di kampung memang masih banyak yang menyebut pasaran (pon, wage, kliwon, legi, pahing). Namun jika di kota sudah tidak ada.

Mengapa bisa demikian? Karena jika di kampung pasar hanya akan ramai pada hari-hari tertentu saja, maka masyarakat selalu ingat pasaran. Sedangkan di kota pasar selalu ramai setiap hari, bahkan tidak hanya siang, malam pun masih banyak pedagang dan pembeli.

Dengan demikian, masyarakat kota tanpa mengingat pasaran pun tidak masalah, karena pasar selalu ramai setiap saat.

Namun, meskipun aran hampir punah karena jarang digunakan, tidak ada jeleknya kita mengetahuinya. Karena ini adalah karya nenek moyang masyarakat Jawa yang mungkin masyarakat sekarang yang modern tidak dapat lagi membuat aran.

Berikut arane berbagai hal dalam bahasa Jawa Kuno.

Arane

Nama Hari Bahasa Jawa

Dina adalah hari, orang Jawa juga mengenal nama Hari nasional yang berjumlah 7 (seminggu), namun arane dina (sebutan hari) menurut orang Jawa berbeda, yaitu sebagai berikut:

No.NgokoJawa Kuno
1Minggu (Ahad)Dite
2SenenSoma
3SelasaAnggara
4ReboBuda
5KemisRespati
6JumatSukra
7SabtuTumpak

Nama Pasaran Bahasa Jawa

Seperti telah dicontohkan di atas, masyarakat Jawa memiliki hari pasaran berjumlah 5 (lima) hari dan selalu berputar layaknya arane dina. Perbedaannya terletak pada nama dan jumlah hari. Jika arane dina berjumlah 7 (seminggu) yang namanya telah kami lampirkan pada tabel di atas, sedangkan pasaran hanya berjumlah 5 (lima).

Dimulai dari pon, wage, kliwon, legi, pahing, selanjutnya kembali ke pon lagi.

Berikut arane pasaran orang Jawa

No.NgokoJawa Kuno
1PonPalguna
2WageCemengan
3KliwonKasih
4LegiManis
5PahingJenar

Penggunaan hari dan pasaran Jawa

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa khususnya yang di kampung masih banyak yang menggunakan keduanya yaitu hari dan pasaran. Ini bisa dilihat ketika mereka punya hajat, dalam undangan yang sebar, biasanya akan tertulis tanggal, hari dan pasaran.

Misalnya: Rebo Wage, Senen Legi, Sabtu Pon dan lain-lain.

Mengapa hari dan pasaran masih digunakan? Karakter umum orang Jawa adalah teliti dan detail. Degan menyebutkan tanggal, hari, dan pasaran, maka waktu yang telah ditentukan akan semakin jelas. Meskipun sebenarnya cukup dengan menyebutkan tanggal saja sudah jelas.

Bagaimana menggunakan hari dan pasaran? Untuk menggunakan hari dan pasaran adalah digabungkan, misalnya hari yang digunakan Selasa, sedangkan hari tersebut jatuh pada pasaran Kliwon, maka akan disebut Selasa Kliwon.

Pelajari juga 159 Arane Uwit, Godhong, Kembang, Pentil, Woh wohan, lan Isine

Nama Wuku Bahasa Jawa

Dalam bahasa Jawa terdapat sebuah kata yang disebut wuku. Wuku adalah bagian dari suatu siklus dalam penanggalan Jawa dan Bali yang berumur tujuh hari, satu pekan, atau seminggu. Sedangkan siklusnya berumur 30 minggu (pekan) yang berjumlah 210 hari. Hebatnya, wuku memiliki nama tersendiri yang unik.

Wuku atau pawukon masih banyak digunakan di Jawa dan Bali, khususnya untuk mencari dan menentukan hari baik dan hari buruk ketika akan mengadakan sebuah acara, serta erat kaitannya dengan weton/nepton. Pada masyarakat Bali, weton disebut oton atau otonan. Sebagai contoh, bayi yang berusia 1 siklus wuku berumur 210 hari disebut 1 oton.

Timbulnya perhitungan sistem wuku karena bertemunya dua hari pasaran (pancawara) dan pekan (saptawara) menjadi satu. Sistem pasaran atau pancawara terdiri dari 5 hari, sedangkan sistem pekan atau saptawara terdiri dari 7 hari.

Dengan adanya wuku, orang Jawa dan Bali dapat mengetahui dengan pasti pertemuan antara hari pasaran dan hari pekan. Sebagai contoh, hari Sabtu Pon pasti akan terjadi dalam wuku Wugu.

Daftar Wuku

Wuku dibagi menjadi tiga puluh (30) macam yang diambil dari kisah sebuah kerajaan dengan rajanya Prabu Watugunung. Satu wuku umurnya seminggu, selengkapnya sebagai berikut:

  1. Wuku Sinta – Batara Yama (Ahad Pahing – Sabtu Pon)
  2. Wuku Landep – Batara Mahadewa (Ahad Wage – Sabtu Kliwon)
  3. Wuku Wukir, Ukir – Batara Mahayakti (Ahad Legi – Sabtu Pahing)
  4. Wuku Kurantil, Kulantir – Batara Langsur (Ahad Pon – Sabtu Wage)
  5. Wuku Tolu, Tulu – Batara Bayu (Ahad Kliwon – Sabtu Legi)
  6. Wuku Gumbreg – Batara Candra (Ahad Pahing – Sabtu Pon)
  7. Wuku Warigalit, Wariga – Batara Asmara (Ahad Wage – Sabtu Kliwon)
  8. Wuku Warigagung, Warigadian – Batara Maharesi (Ahad Legi – Sabtu Pahing)
  9. Wuku Julungwangi, Julangwangi – Batara Sambu (Ahad Pon – Sabtu Wage)
  10. Wuku Sungsang – Batara Gana Ganesa (Ahad Kliwon – Sabtu Legi)
  11. Wuku Galungan, Dungulan – Batara Kamajaya (Ahad Pahing – Sabtu Pon) Pada minggu ini, jatuh hari raya Galungan pada hari Rabu-Kliwon
  12. Wuku Kuningan – Batara Indra. (Ahad Wage – Sabtu Kliwon) Pada minggu ini, jatuh hari raya Kuningan pada hari Sabtu-Kliwon.
  13. Wuku Langkir – Batara Kala (Ahad Legi – Sabtu Pahing)
  14. Wuku Mandasiya, Medangsia – Batara Brahma (Ahad Pon – Sabtu Wage)
  15. Wuku Julungpujut, Pujut – Batara Guritna (Ahad Kliwon – Sabtu Legi)
  16. Wuku Pahang – Batara Tantra (Ahad Pahing – Sabtu Pon)
  17. Wuku Kuruwelut, Krulut – Batara Wisnu (Ahad Wage – Sabtu Kliwon)
  18. Wuku Marakeh, Merakih – Batara Suranggana (Ahad Legi – Sabtu Pahing)
  19. Wuku Tambir – Batara Siwa (Ahad Pon – Sabtu Wage)
  20. Wuku Medangkungan – Batara Basuki (Ahad Kliwon – Sabtu Legi)
  21. Wuku Maktal – Batara Sakri (Ahad Pahing – Sabtu Pon)
  22. Wuku Wuye, Uye – Batara Kowera (Ahad Wage – Sabtu Kliwon)
  23. Wuku Manahil, Menail – Batara Citragotra (Ahad Legi – Sabtu Pahing)
  24. Wuku Prangbakat – Batara Bisma (Ahad Pon – Sabtu Wage)
  25. Wuku Bala – Batara Durga (Ahad Kliwon – Sabtu Legi)
  26. Wuku Wugu, Ugu – Batara Singajanma (Ahad Pahing – Sabtu Pon)
  27. Wuku Wayang – Batara Sri (Ahad Wage – Sabtu Kliwon)
  28. Wuku Kulawu, Kelawu – Batara Sadana (Ahad Legi – Sabtu Pahing)
  29. Wuku Dukut – Batara Baruna. Pada minggu ini jatuh hari Anggara Kasih pada hari Selasa Kliwon yang dianggap keramat oleh orang Jawa. (Ahad Pon – Sabtu Wage)
  30. Wuku Watugunung – Batara Anantaboga. (Ahad Kliwon – Sabtu Legi) Dalam minggu ini jatuh hari Sabtu Umanis adalah hari Saraswati yang dianggap suci oleh orang Bali.

Masing-masing wuku di atas memiliki dewa, kaki, kayu, larangan dan sebagainya akan kami bahas di artikel selenjutnya.

Nama Bulan Masehi, Arab, dan Jawa

Sasi dalam bahasa Indonesia berarti bulan. Sejak dahulu orang Jawa telah mengenal bulan kalender baik Masehi, Arab, dan Jawa sendiri. Sasi tersebut masing-masing terdiri dari 12 bulan, yang namanya sebagai berikut:

No.Sasi MasehiSasi ArabSasi Jawa
1JanuariMuharramSura
2FebruariSafarSapar
3MaretRabiulawalMulud
4AprilRabiutsaniBakda Mulud
5MeiJumadi UlaJumadil Awal
6JuniJumadi TsaniyahJumadil Akir
7JuliRajabRejeb
8AgustusSya’banRuwah
9SeptemberRamadhanPasa
10OktoberSyawalSyawal
11NovemberDzulqadahDulkangidah/Solo
12DesemberDzulhijjahBesar

Nama Tahun dan Windu Bahasa Jawa

Taun berarti Tahun dan Windu = Windu. Dalam 1 tahun ada 12 bulan, dan dalam 1 windu ada 8 tahun. Berikut daftar nama tahun dan Windu dalam hitungan Jawa.

Nama Tahun

Nama tahun dalam hitungan Jawa ada delapan (8) yaitu sebagai berikut:

No.Arane Taun
1Taun Alip
2Taun Ehe
3Taun Jimawal
4Taun Je
5Taun Dal
6Taun Be
7Taun Wawu
8Taun Jinakir

Nama windu

Nama windu dalam hitungan Jawa ada empat (4) yaitu sebagai berikut:

No.Arane windu
1Windu Adi
2Windu Kuntara
3Windu Sangara
4Windu Sancaya

Nama Bilangan Bahasa Jawa

Orang Jawa memiliki nama sendiri terhadap angka. Adapun nama wilangan (arane wilangan) dalam bahasa Jawa adalah sebagai berikut:

NO.NgokoJawa KawiKramaIndonesia
1SijiEkoSetunggalSatu
2LoroDwiKalihDua
3TeluTriTigaTiga
4PapatCaturSekawanEmpat
5LimaPancaGangsalLima
6EnemSadNenemEnam
7PituSaptaPituTujuh
8WoluAsthaWoluDelapan
9SangaNawaSangaSembilan
10SepuluhDasaSedasaSepuluh
11SatusSataSetunggal atusSeratus
12SewuSasraSetunggal ewuSeribu
13Sepuluh ewuSaleksaSedasa ewuSepuluh ribu
14Satus ewuSakethiSetunggal atus ewuSeratus ribu
15SayutaSayutaSetunggal yutaSatu juta

Keterangan:

Pada tabel di atas ada kolom Ngoko, Kawi, Krama, dan Bahasa Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa saat ini banyak menggunakan tembung ngoko. Untuk yang kawi biasanya digunakan dalam pewayangan (wayang kulit) ketika dalang bercerita. Selain itu juga masih banyak digunakan dalam sindhenan gendhing Jawa.

Yang kami cantumkan di atas setelah 9 ada sepuluh, seratus, seribu, sepuluh ribu, seratus ribu, dan satu juta.

Mungkin anda bertanya, lalu bagaimana jika dua puluh, dua ratus, dua ribu, dua puluh ribu, dua juta, dan selanjutnya?

Begini penjelasannya:

Admin ambil contoh sepuluh, maka:

  • Ngoko: Sepuluh (bukan loro puluh)
  • Jawa Kawi: Sadasa
  • Bahasa Indonesia: Sepuluh
  • Krama: Sadasa

Contoh di atas hanya mengambil satu contoh, untuk penggunaan arane wilangan selanjutnya:

Misalnya: telung puluh (tiga puluh), patang puluh (empat puluh), seket (lima puluh), sewidak (enam puluh), pitung puluh (tujuh puluh), wolong puluh (delapan puluh), sangang puluh (sembilan puluh), satus (seratus). Dan seterusnya.

Bagi yang baru belajar bahasa Jawa mungkin akan kesulitan dalam penyebutan selanjutnya. Karena terkadang penyebutan dua angka atau lebih tidak konsisten seperti yang telah ada.

Nama Waktu Bahasa Jawa

Wayah berarti waktu. Orang Jawa secara rinci membedakan wayang berdasarkan jam, yaitu dari jam 03.00 pagi sampai jam 01.00 malam. Pembagian setiap wayah rata-rata berdurasi 1 jam, namun tidak semuanya (ada yang 3 jam, dua jam, setengah jam). Ada 19 pembagian wayah, adapun arane sebagai berikut:

NoJamWayah
103.00 esuk (dini hari)pajar sidik (bang-bang wetan)
204.00bedhug subuh
305.00saput lemah
406.00byar
509.00tengange
610.00wisan gawe
712.00bedhug
813.00luhur
915.00lingsir kulon
1016.00asar
1117.00tunggang gunung
1217.30tibralayu
1318.30surub/candhikala
1419.00bakda magrib
1519.30isyak
1620.00bakda isyak
1721.00sirep bocah
1823.00sirep wong
1901.00lingsir wengi

Nama arah Bahasa Jawa

Kiblat yang dimaksud orang Jawa adalah arah. Dalam bahasa Indonesia ada timur, tenggara, selatan, barat daya dan seterusnya berjumlah 8 juru mata angin. Namun di dalam bahasa Jawa arane arah hanya ada empat, yaitu sebagai berikut:

  • lor = utara
  • kidul = daksina
  • wetan = purwa
  • kulon = pracima

Nama jumlah barang Bahasa Jawa

Arane wilangan di sini lain dengan wilangan angka sebelumnya. Yang dimaksud di sini menyangkut benda dengan jumlah atau ukuran tertentu, misalnya air, beras, daging, buah dan sebagainya. Namun, terkadang barang yang tidak sama pun arane sama.

Atau bisa juga barang yang sama arane ada lebih dari satu, dan barang lain terkadang juga memiliki aran yang sama. Jadi terkadang terkesan tidak konsisten lagi. Misalnya: pring dan tebu memiliki aran yang sama yaitu saros. Cukup membingungkan bukan? he… he… he…

Ini adalah salah satu satu keunikan Jawa. Mereka memiliki sebutan yang sangat rinci pada segala sesuatu. Misalnya pisang (gedhang), orang Jawa membaginya menjadi sasupit, salirang, dan satundhun. Masing-masing kata tersebut memuat jumlah yang berbeda, dari yang paling sedikit sampai yang terbanyak.

Dengan adanya wilangan, maka mempermudah bahwa wilangan yang disebutkan secara tidak langsung telah menjelaskan barang yang dimaksud.

Contoh:

  • Aku wingi wis ngrampungke gawean sakedhok” (Aku kemarin telah menyelesaikan pekerjaan Sakedhok)

Kata sakedhok telah menjelaskan bahwa hal yang dikerjakan adalah sawah. Seandainya tanpa disebutkan sawahnya pun orang telah paham bahwa pekerjaan yang telah diselesaikan tersebut sawah.

Adapun arane wilangan barang contohnya sebagai berikut:

Nama barang/bendaWilangan
banyusacegukan
bongko (makanan)sawungkus
berassataker
bawangsabungkul
berassegegem
benangsagulung
cangkirsalosin
cangkirsagagrak
dagingsairis
duksakakap
darasajodho
gedhangsasupit
gedhangselirang
gedhangsatundhun
godhongsalempit
godhongsasuwek
gambirsakerek
gulasatangkep
gulasajimpit
gulasagendhel
gamelansarancang
iwaksakepis
jeruksaijir
jaesarempang
jaransarakit
jaritsalembar
kertassalembar
kertassasuwek
klasasagulung
kencursagrigih
klapa/krambilsajanjang
krambilsawawar
klengkengsaombyok
lengasagendul
lawesagemuh
omahsawuwung
parisawuli
parisagedheng
parisaunting
pringsaros
panahsalakon
petesamata
petesakeris
rokoksabungkus
rokoksaler
segasapulukan
segasapiring
segasaemplok
sandhangansapengadeg
satesasunduk
sepatusapasang
sawahsakedhok
sandhalsapasang
suruhsaporos
suruhsacandhik
suwengsasele
tebusaros
tebusalonjor
tebusauyun
telosatenggok
tembakosajamang
tembakosatampang
tembakosadeleg
tembungsakecap
uyahsawuku
wedangsacangkir
Lan sapanunggalene…………..

Arane wilangan hanya beberapa puluh arane wilangan barang, masih banyak yang sekarang ini jarang sekali digunakan karena pengaruh perkembangan jaman.

Misalnya tela (ketela). Dahulu orang Jawa rata-rata menggunakan tenggok (bakul yang dibuat dari anyaman bambu) untuk mewadahi ketela, namun sekarang sudah banyak alat untuk mewadahinya.

Pelajari juga 52 Arane Kembang bahasa Jawa, Manfaat, dan penggunaannya di jaman modern

Nama anak

Kita lanjutkan dengan “arane bocah” dalam bahasa Jawa. Masyarakat Jawa memiliki aran (sebutan) tertentu terkait anak, yang meliputi jenis kelamin, jumlah saudara anak dalam satu keluarga, lahirnya anak, waktu kelahiran anak, anak cacat dan sebagainya.

Berikut daftar arane bocah dalam bahasa Jawa:

BocahArane
angganaanak sing urip kari siji, liyane padha mati
bocah bungkusanak kang laire kabuntel kendhangan
cukit dulitanak telu lanang kabeh
cemanibocah kang pakulitane ireng
dhampitanak loro lanang wadon laire bareng
gerendelanak akeh ragile seje dhewe
gilir kacanganak akeh gilir lanang wadon
godhang kasihanak mung loro seje pakulitane kuning karo ireng
gotong mayitanak telu wadon kabeh
ipil-ipilanak lima lanang siji
jempinalair durung wektune
julung caplokbocah lair ing wektu srengenge angslup
julung caplokbocah kang laire bareng surub srengenge
julung kembangbocah lair ing wektu srengenge mlethek
julung sarapbocah kang laire ngarepake srengenge surub
julung sungsangbocah kang laire jam 12 awan
kedhana-kedhinianak loro lanang wadon
kembang sepasanganak loro wadon kabeh
kembaranak loro awadon kabeh utawa lanang kabeh laire bareng
kembar gantungbocah loro kembar laire let sedino
karendhaanak lair loro lair kang nunggal bungkus
lumpat kidanganak akeh ora giliran lanang wadon
marganabocah lair nuju ing dalan
padangananak lima wadon siji
pancagatianak lima wadon kabeh
pancuran kaapit sendhanganak telu, wadone loro, lanange siji ana tengah
pandhawaanak lima lanang kabeh
pangguluanak sing nomor loro
pandhadhaanak nomer telu
pathokanak akeh, lanange ana tengah
sarambaanak papat lanang kabeh
sapasaranak lima lanang wadon
sarimpianak papat wadon kabeh
sendhang kaapit pancurananak telu lanange loro wadone siji ana tengah
sumalacocah cacat wiwit lair
tawang gantungananak kembar loro, laire seje dina
thok thingbocah sing laire gedhe, awake cilik
tiba sampirbocah lair kaung usus
tiba ungkerbocah lair ususe nggubet gulu
uger-uger lawanganak loro lanang kabeh
untang-antinganak siji wadon
wahanabocah lair pinuju ibune ana ing pasamuan
wungkulbocah lair tanpa ari-ari
wungel/wunglebocah lair putih mulus
wuyunganbocah lair ing tengah-tengahing geger (ontran-ontran)

Pelajari juga Sebutan cacat anggota tubuh manusia dalam bahasa Jawa lengkap contohnya

Sebutan saudara Bahasa Jawa

Jika dalam bahasa Indonesia ada si sulung dan si bungsu, dalam masyarakat Jawa arane sedulur (saudara) meliputi 5 sebutan. Adapun urutannya sebagai berikut:

  1. Anak nomor 1 arane = pembarep
  2. Anak nomor 2 arane = penggulu
  3. Anak nomor 3 arane = pendhadha
  4. Anak nomor 4 sateruse arane = sumendhi
  5. Anak nomor keri dhewe arane = wuragil utawa waruju

Nama keturunan Bahasa Jawa

Turun yang dimaksud jika dalam bahasa Indonesia adalah keturunan, seperti anak, cucu dll. Sedangkan dalam masyarakat Jawa sebutan atau arane turun ada 7. Maka ada sebutan tujuh turunan. Adapun arane turun sebagai berikut:

  1. turun (1) kapisan diarani = anak
  2. turun (2) kapindho diarani = putu
  3. turun (3) katelu diarani = buyut
  4. turun (4) kapapat diarani = canggah
  5. turun (5) kalima diarani = wareng
  6. turun (6) kaenem diarani = udheg-udheg
  7. turun (7) kapitu diarani = siwur

Nama Sanak Saudara Bahasa Jawa

Arane peprenahan Kulawarga jika dalam bahasa Indonesia adalah saudara, keponakan, dan lain-lain. Dalam bahasa Jawa arane peprenahan kulawarga yaitu sebagai berikut:

  1. Sadulur = tunggal bapak
  2. Keponakan = anake sadulur tuwa utawa sadulur enom
  3. Nakdulur = sadulur tunggal mbah
  4. Misan = sadulur tunggal buyut
  5. Sadulur kuwalon = sadulur tunggal bapak seje ibu, sadulur tunggal ibu seje bapak

Sebutan Watak Bahasa Jawa

Watak atau perwatakan adalah sebutan untuk sifat seseorang. Jika dalam bahasa Indonesia misalnya sombong, jahat, pelit dll. Sedangkan dalam bahasa Jawa berikut arane watak:

  1. umuk = seneng omong, nanging ora ana nyatane
  2. delap = seneng njejaluk ora nate menehi
  3. kemer = senengane pamer
  4. bruthal = sennengane ugal-ugalan
  5. alim = bocah sing anteng, jatmika (pinter)
  6. tambeng = nggugu karepe dewe, ora manut wulang sing becik
  7. lonjo = bocah sing senengane dolan, ora seneng ana ngomah
  8. wasis = bocah sing pinter
  9. cluthak = seneng nyolong panganan, ing lemari, lan sapanunggalane
  10. gembeng = gampang nangis
  11. climut/clemer = seneng nyolong duweke liyan

Pelajari juga Arane Kembang bahasa Jawa, Manfaat, dan penggunaannya di jaman modern

Kesimpulan

Dengan mengamati berbagai aran atau arane yang sudah kami tulis di atas, dapat disimpulkan bahwa orang Jawa itu kaya kosakata. Selain itu, pada zaman kerajaan nenek moyang orang Jawa adalah bangsa yang berperadaban tinggi. Terbukti dengan kemampuan mereka mampu menciptakan nama hari, bulan, tahun, waktu dan lain-lain yang sampai sekarang masih digunakan oleh masyarakat khususnya di pedesaan.

Orang Jawa adalah orang yang detail, jelas dan spesifik. Ini tercermin dari cara mereka memberikan (aran) atau nama ke berbagai hal dengan sangat jelas, meskipun terkadang terdapat yang tidak konsisten.

Pelajari juga:

Demikian yang dapat kami sampaikan mengenai arane berbagai hal yang diciptakan tokoh orang Jawa sendiri. Semoga dengan ini akan menambah berbagai pengetahuan baru tentang bahasa Jawa. Silahkan kunjungi kawruhbasa.com untuk belajar bahasa Jawa dengan baik dan benar. Atau ikuti kami di Google News

Berita Terkait

Bahasa Jawa: Sejarah, Fungsi, Keunikan, kosakata, kamus, dan aplikasi
Mengenal Perbedaan dan Penggunaan Ngoko Alus dan Ngoko Lugu dalam Bahasa Jawa
Minta maaf dalam bahasa Jawa
Dhapukane (susunan) tembung Jawa
9 jenis tembung dan 7 jenis ukara Bahasa Jawa
Penggunaan tembung kriya, tembung aran, tembung kahanan dan contohnya
22 cara Ngrimbag Tembung Jawa dan contohnya
Tembung Kawi: Pengertian, Fungsi, Sejarah, Peninggalan, Kamus

Berita Terkait

Minggu, 14 Juli 2024 - 11:34 WIB

Bahasa Jawa: Sejarah, Fungsi, Keunikan, kosakata, kamus, dan aplikasi

Minggu, 14 Juli 2024 - 11:34 WIB

Mengenal Perbedaan dan Penggunaan Ngoko Alus dan Ngoko Lugu dalam Bahasa Jawa

Minggu, 14 Juli 2024 - 10:04 WIB

Minta maaf dalam bahasa Jawa

Kamis, 13 Juni 2024 - 00:42 WIB

Dhapukane (susunan) tembung Jawa

Selasa, 11 Juni 2024 - 15:43 WIB

9 jenis tembung dan 7 jenis ukara Bahasa Jawa

Berita Terbaru

Tanya Jawab

Arti “maido” bahasa Jawa

Minggu, 14 Jul 2024 - 10:22 WIB

Bahasa Jawa

Minta maaf dalam bahasa Jawa

Minggu, 14 Jul 2024 - 10:04 WIB

Tanya Jawab

Apa arti dari atis?

Minggu, 14 Jul 2024 - 09:51 WIB