Arti Selawe dalam Bahasa Jawa: Makna Angka dan Nilai Sosial Budaya

Avatar of Sonya Ruri

- Author

Wednesday, 2 July 2025 - 09:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

kawruhbasa.com – Bahasa Jawa tidak hanya kaya akan kosakata yang mencerminkan benda atau tindakan, tetapi juga memiliki istilah khusus untuk angka-angka. Salah satu angka yang menarik untuk dikaji adalah “selawe.” Dalam bahasa Jawa, arti selawe adalah dua puluh lima. Namun, angka ini memiliki berbagai makna dan konotasi dalam kehidupan masyarakat Jawa, terutama dalam ranah sosial dan budaya.

Pengertian Selawe Secara Leksikal

Secara literal, selawe merupakan bentuk bahasa Jawa untuk angka 25. Kata ini terdiri dari penggabungan “se” yang berarti satu, dan “lawe” yang merupakan bagian dari kata untuk angka dua puluh lima. Selawe biasa digunakan dalam berbagai konteks numerik, seperti dalam penghitungan, penyebutan umur, atau kuantitas barang.

Contoh penggunaan:

  • “Umurku saiki selawe tahun.” (Umur saya sekarang dua puluh lima tahun.)
  • “Buah apel kuwi regane selawe ewu.” (Buah apel itu harganya dua puluh lima ribu.)

Selawe dalam Konteks Sosial dan Budaya

Angka dalam budaya Jawa tidak hanya digunakan untuk menyatakan jumlah, tetapi juga mengandung makna simbolik atau menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat. Selawe, sebagai angka 25, sering kali muncul dalam konteks sosial tertentu.

1. Usia 25 Tahun sebagai Tahapan Hidup

Usia dua puluh lima sering dianggap sebagai fase penting dalam kehidupan seseorang. Dalam masyarakat Jawa, usia ini sering dikaitkan dengan kedewasaan dan kesiapan untuk memikul tanggung jawab, termasuk dalam hal pekerjaan dan pernikahan.

  • “Yen wis selawe, kudu wis duwe panguripan sing tetep.” (Kalau sudah dua puluh lima, harus sudah memiliki kehidupan yang stabil.)

Pandangan ini menjadikan selawe sebagai simbol batas antara masa muda dan awal kedewasaan.

2. Tradisi dan Simbolisme Angka Selawe

Dalam beberapa kebudayaan lokal, angka 25 digunakan dalam berbagai kegiatan tradisional. Misalnya, dalam kenduri atau slametan, kadang jumlah makanan yang dibagikan atau jumlah bacaan tertentu mencapai angka ini karena dianggap genap dan cukup.

  • “Sak kenduri ana selawe bungkus jajan pasar.” (Dalam kenduri ada dua puluh lima bungkus jajanan pasar.)

Hal ini menunjukkan bahwa selawe memiliki nilai simbolis sebagai angka yang dianggap cukup atau pantas dalam konteks sosial tertentu.

3. Selawe sebagai Ekspresi dalam Bahasa Sehari-hari

Bahasa Jawa dikenal dengan penggunaan angka dalam bentuk idiomatik. Selawe pun kadang digunakan dalam bentuk guyonan atau sindiran.

  • “Ojo mung ditawani selawe, yen kerja abot kok regane mung ngono.” (Jangan hanya ditawari dua puluh lima, kalau kerjanya berat dan harganya segitu.)

Ungkapan ini menunjukkan bagaimana angka juga digunakan sebagai bentuk ekspresi atau kritik sosial.

Peribahasa dan Ungkapan Mengandung Selawe

Walaupun tidak sebanyak kata-kata lain, angka selawe tetap muncul dalam bentuk ungkapan khas dalam percakapan masyarakat Jawa. Beberapa di antaranya:

  • “Selawe dina maneh rabi” (Dua puluh lima hari lagi menikah): menunjukkan waktu yang cukup dekat.
  • “Regane mung selawe, ning gunane akeh” (Harganya cuma dua puluh lima, tapi manfaatnya banyak): menekankan nilai dibanding harga.

Ungkapan-ungkapan ini memperkaya cara masyarakat menyampaikan gagasan dan makna melalui angka.

Filosofi Jawa dalam Penggunaan Angka

Masyarakat Jawa tidak hanya rasional dalam melihat angka, tetapi juga memberikan nilai-nilai simbolis terhadap angka tertentu. Dalam hal ini, selawe bisa dilihat sebagai simbol dari keseimbangan. Dianggap cukup muda untuk belajar, namun cukup dewasa untuk bertanggung jawab.

Angka ini juga berada di tengah antara nol hingga lima puluh, menjadikannya sebagai representasi dari titik tengah menuju kematangan.

Selawe dalam Sastra dan Kesenian

Dalam seni sastra Jawa seperti tembang atau geguritan, angka selawe kadang digunakan sebagai bagian dari syair atau bait yang berirama. Misalnya:

  • “Selawe lintang ing langit wengi, dadi saksi katresnanku marang sliramu.” (Dua puluh lima bintang di langit malam, menjadi saksi cintaku padamu.)

Penggunaan ini menunjukkan bahwa angka dalam bahasa Jawa tidak hanya informatif, tetapi juga artistik.

Pendidikan dan Pelestarian Kosakata Angka Jawa

Di tengah perkembangan bahasa dan budaya modern, penggunaan angka-angka dalam bahasa Jawa mulai berkurang. Banyak anak muda yang tidak mengenal istilah seperti selawe, telung puluh, utawa sanga likur. Oleh karena itu, pelestarian kosakata angka menjadi penting dalam pendidikan lokal.

Sekolah-sekolah atau komunitas budaya dapat mengintegrasikan pembelajaran angka Jawa ke dalam kurikulum atau kegiatan harian, seperti permainan tradisional, lagu anak-anak, dan pelajaran muatan lokal.

Arti selawe dalam bahasa Jawa adalah dua puluh lima. Namun lebih dari sekadar angka, selawe mencerminkan berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa, mulai dari tahapan kedewasaan, simbol sosial, hingga ekspresi dalam bahasa dan seni.

Memahami kosakata angka seperti selawe bukan hanya soal menghitung, tetapi juga mengenali nilai-nilai budaya dan filosofi hidup masyarakat Jawa.

Melalui pelestarian bahasa dan pemahaman budaya, kita bisa menjaga agar istilah-istilah seperti selawe tetap hidup dan relevan dalam kehidupan generasi sekarang dan yang akan datang.

Berita Terkait

Arti Lestari dalam Bahasa Jawa: Makna Abadi dalam Budaya dan Falsafah Jawa
Arti Lengen dalam Bahasa Jawa: Memahami Makna Lengan dalam Konteks Budaya Jawa
Arti Lenga dalam Bahasa Jawa: Lebih dari Sekadar Minyak dalam Kehidupan Sehari-hari
Arti Lemu dalam Bahasa Jawa: Simbol Kesejahteraan dan Makna Budaya
Arti Lemah dalam Bahasa Jawa: Menyelami Makna Tanah dalam Filosofi Kehidupan
Arti Lelara dalam Bahasa Jawa: Penyakit sebagai Simbol Keseimbangan Hidup
Arti Mlebu dalam Bahasa Jawa: Makna Masuk dan Fungsinya dalam Budaya Sehari-hari
Arti Leren dalam Bahasa Jawa: Makna Istirahat dan Nilai Budaya yang Dikandungnya
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Friday, 11 July 2025 - 10:09 WIB

Arti Lestari dalam Bahasa Jawa: Makna Abadi dalam Budaya dan Falsafah Jawa

Friday, 11 July 2025 - 10:05 WIB

Arti Lengen dalam Bahasa Jawa: Memahami Makna Lengan dalam Konteks Budaya Jawa

Friday, 4 July 2025 - 10:27 WIB

Arti Lenga dalam Bahasa Jawa: Lebih dari Sekadar Minyak dalam Kehidupan Sehari-hari

Friday, 4 July 2025 - 10:25 WIB

Arti Lemu dalam Bahasa Jawa: Simbol Kesejahteraan dan Makna Budaya

Friday, 4 July 2025 - 10:20 WIB

Arti Lemah dalam Bahasa Jawa: Menyelami Makna Tanah dalam Filosofi Kehidupan

Berita Terbaru

Loker Guru Bahasa Jawa

Loker Fresh Graduate Kesempatan Kerja Guru Bahasa Jawa Tahun 2025

Thursday, 10 Jul 2025 - 09:52 WIB

Loker Guru Bahasa Jawa

Rekrutmen Terbaru Loker Terbaru Guru Bahasa Jawa Tahun 2025

Thursday, 10 Jul 2025 - 08:52 WIB

Loker Guru Bahasa Jawa

Daftar Kerja Sekarang Karir Terbaru Guru Bahasa Jawa Tahun 2025

Thursday, 10 Jul 2025 - 07:52 WIB