Perbedaan Konsinyasi dan Dropshipper: Pengertian, Cara Kerja, dan Keuntungan

- Author

Selasa, 28 Februari 2023 - 15:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bisnis Perbedaan Konsinyasi dan Dropshipper: Konsinyasi dan dropshipper adalah dua model bisnis yang sering digunakan untuk menjual produk tanpa harus menyimpan persediaan atau mengeluarkan modal besar untuk membeli barang. Meskipun keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk menghasilkan keuntungan tanpa membeli barang terlebih dahulu, keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam cara kerjanya.

Pengertian Konsinyasi

Konsinyasi adalah bentuk kerjasama antara pemasok dan penjual di mana pemasok menitipkan barang kepada penjual dan hanya akan dibayar jika barang tersebut terjual. Dalam konsinyasi, penjual tidak perlu mengeluarkan modal untuk membeli barang terlebih dahulu, melainkan hanya membayar pemasok setelah barang terjual.

Pemasok tetap memiliki kepemilikan barang hingga barang tersebut terjual dan dapat mengambil kembali barang yang tidak terjual. Model bisnis konsinyasi sering digunakan di toko-toko retail dan toko-toko barang bekas. Konsinyasi memungkinkan penjual untuk mempertahankan cash flow dan mengurangi risiko kelebihan stok barang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Cara kerja konsinyasi

Cara kerja konsinyasi dimulai dengan kesepakatan antara pemasok dan penjual mengenai produk yang akan dititipkan. Pemasok kemudian menitipkan produk tersebut ke penjual untuk dijual, namun kepemilikan barang tetap berada pada pemasok. Ketika produk terjual, penjual akan memberikan pembayaran kepada pemasok, biasanya dengan persentase dari harga jual barang. Pemasok akan mengambil keuntungan dari penjualan produk tersebut setelah dikurangi dengan biaya konsinyasi.

Pemasok bertanggung jawab untuk memastikan produk dalam kondisi baik dan siap jual, serta memberikan informasi yang dibutuhkan oleh penjual seperti harga jual dan asal produk. Penjual bertanggung jawab untuk memasarkan produk, menjual, dan menjaga kondisi barang hingga terjual.

Jika dalam periode waktu tertentu produk tidak terjual, pemasok dapat mengambil kembali barang yang tidak terjual atau memperpanjang jangka waktu konsinyasi dengan penjual. Dalam beberapa kasus, pemasok dan penjual juga dapat menegosiasikan diskon untuk produk yang tidak terjual untuk mempercepat penjualan barang.

Kelebihan dan kekurangan konsinyasi

Kelebihan Konsinyasi:

  1. Tidak perlu modal besar: Penjual tidak perlu mengeluarkan modal besar untuk membeli stok barang karena barang tersebut diberikan oleh pemasok, sehingga dapat mempertahankan cash flow.
  2. Mengurangi risiko kelebihan stok: Dalam model bisnis konsinyasi, pemasok bertanggung jawab atas stok barang sehingga penjual tidak perlu khawatir mengalami kerugian akibat kelebihan stok barang.
  3. Meningkatkan keuntungan: Penjual dapat mengambil keuntungan yang lebih besar karena tidak perlu membayar untuk membeli barang terlebih dahulu.
  4. Meningkatkan keterampilan pemasaran: Dalam bisnis konsinyasi, penjual harus dapat memasarkan barang yang dititipkan dengan baik agar terjual. Dengan demikian, bisnis konsinyasi dapat membantu meningkatkan keterampilan pemasaran penjual.

Kekurangan Konsinyasi:

  1. Keuntungan yang lebih rendah: Pemasok akan memperoleh bagian dari keuntungan penjualan yang dilakukan oleh penjual, sehingga keuntungan yang didapatkan oleh penjual lebih rendah.
  2. Risiko kekurangan stok: Jika penjual berhasil menjual barang dengan cepat dan stok barang yang tersedia habis, penjual harus menunggu hingga pemasok menitipkan barang baru untuk dijual lagi.
  3. Risiko kerusakan barang: Meskipun pemasok bertanggung jawab atas kondisi barang, tetapi jika terjadi kerusakan selama pengiriman atau penyimpanan di toko penjual, penjual harus menanggung kerugian.
  4. Terbatas pada produk tertentu: Tidak semua produk cocok untuk model bisnis konsinyasi, terutama untuk produk yang memiliki masa kadaluarsa atau mudah rusak.
  5. Persaingan tinggi: Model bisnis konsinyasi juga memiliki tingkat persaingan yang tinggi, terutama dalam industri yang tergantung pada musim seperti pakaian atau peralatan olahraga. Sebagai penjual, Anda harus bersaing dengan penjual lain yang juga menawarkan produk serupa.
  6. Keterbatasan kontrol atas stok: Penjual tidak memiliki kendali penuh atas stok barang karena barang tersebut masih dimiliki oleh pemasok. Hal ini dapat membatasi kemampuan penjual untuk mengelola stok dan menjaga ketersediaan barang di toko.
  7. Tidak ada jaminan penjualan: Meskipun pemasok bertanggung jawab atas stok barang, tidak ada jaminan bahwa barang tersebut akan terjual. Penjual harus memasarkan barang secara efektif dan dapat menyesuaikan strategi penjualan jika produk tidak laku di pasar.
  8. Resiko konflik dengan pemasok: Terkadang, ada masalah yang dapat terjadi antara pemasok dan penjual, seperti perbedaan dalam penilaian kondisi barang atau persentase keuntungan yang dibagi. Jika tidak diatasi dengan baik, hal ini dapat menyebabkan konflik yang merugikan kedua belah pihak.

Kesimpulannya, bisnis konsinyasi memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu diperhatikan oleh penjual sebelum memutuskan untuk menerapkan model bisnis ini. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, penjual dapat menentukan apakah bisnis konsinyasi cocok untuk produk mereka dan bagaimana cara mengelola risiko yang terkait dengan model bisnis ini.

Baca juga Rahasia Sukses Bisnis Konsinyasi

Pengertian Dropshipper

Dropshipper adalah individu atau perusahaan yang menjual produk dari pemasok atau produsen tertentu kepada pelanggan akhir tanpa harus menyimpan stok produk di tempat mereka sendiri. Seorang dropshipper bertindak sebagai perantara antara pemasok dan pelanggan akhir, mengambil pesanan dari pelanggan dan meneruskannya ke pemasok untuk pengiriman langsung ke pelanggan. Dalam model bisnis dropshipping, dropshipper mendapatkan keuntungan dari selisih harga antara harga grosir yang mereka bayar kepada pemasok dan harga jual yang mereka tetapkan untuk pelanggan akhir.

Cara kerja dropshipper

  1. Cari pemasok: Dropshipper harus mencari pemasok yang menawarkan produk yang ingin dijual. Pemasok harus dapat mengirimkan produk langsung ke pelanggan akhir.
  2. Pilih produk: Setelah menemukan pemasok yang tepat, dropshipper harus memilih produk yang ingin dijual. Produk yang dipilih harus memiliki permintaan yang tinggi di pasar dan memiliki harga jual yang cukup tinggi untuk memberikan keuntungan yang baik.
  3. Buat toko online: Dropshipper perlu membuat toko online untuk menjual produk yang telah dipilih. Toko online dapat dibuat di platform seperti Shopify, WooCommerce, atau Etsy. Toko online harus menampilkan gambar dan deskripsi produk dengan jelas, serta harga yang kompetitif.
  4. Promosikan toko online: Dropshipper harus mempromosikan toko online mereka agar dapat ditemukan oleh calon pembeli. Salah satu cara yang umum dilakukan adalah dengan menggunakan media sosial, seperti Facebook dan Instagram, atau menggunakan iklan berbayar, seperti Google Ads atau Facebook Ads.
  5. Terima pesanan: Ketika pembeli melakukan pembelian melalui toko online, dropshipper akan menerima pesanan. Dropshipper harus memastikan bahwa pesanan telah dibayar dan menyediakan informasi pengiriman yang jelas kepada pemasok.
  6. Kirim pesanan ke pemasok: Setelah menerima pesanan, dropshipper akan meneruskannya ke pemasok untuk pengiriman langsung ke pelanggan akhir. Dropshipper harus memastikan bahwa produk yang dikirimkan oleh pemasok sesuai dengan pesanan dan dikirim tepat waktu.
  7. Kirim informasi pengiriman ke pelanggan: Setelah pemasok mengirimkan produk ke pelanggan, dropshipper harus mengirimkan informasi pengiriman kepada pelanggan. Hal ini penting agar pelanggan dapat melacak pengiriman dan mengetahui kapan produk akan tiba.

Dengan cara kerja yang sederhana dan tidak memerlukan modal yang besar, model bisnis dropshipping dapat menjadi pilihan yang menarik bagi mereka yang ingin memulai bisnis online.

Kelebihan dan kekurangan dropshipper

Berikut adalah kelebihan dan kekurangan menjadi seorang dropshipper:

Kelebihan:

  1. Tidak memerlukan modal yang besar: Dropshipper tidak perlu menyimpan stok produk di tempat mereka sendiri, sehingga tidak memerlukan modal yang besar untuk memulai bisnis.
  2. Mudah dijalankan: Model bisnis dropshipping relatif mudah dijalankan karena tidak memerlukan pengelolaan stok, pengemasan produk, atau pengiriman produk ke pelanggan.
  3. Skalabilitas: Dropshipper dapat dengan mudah menambahkan produk baru ke dalam toko online mereka tanpa harus menyimpan stok produk di tempat mereka sendiri.
  4. Fleksibilitas: Dropshipper dapat menjalankan bisnis dari mana saja, asalkan terhubung dengan internet.

Kekurangan:

  1. Tidak dapat mengontrol stok: Dropshipper tidak dapat mengontrol stok produk dan kualitas produk yang dijual.
  2. Rentan terhadap masalah pengiriman: Dropshipper tidak dapat mengendalikan pengiriman produk ke pelanggan, sehingga rentan terhadap masalah pengiriman seperti keterlambatan atau kerusakan produk.
  3. Rentan terhadap persaingan: Karena model bisnis dropshipping relatif mudah dijalankan, persaingan dalam pasar dapat menjadi sangat ketat.
  4. Keuntungan yang lebih rendah: Dropshipper hanya mendapatkan keuntungan dari selisih harga antara harga grosir yang mereka bayar kepada pemasok dan harga jual yang mereka tetapkan untuk pelanggan akhir. Hal ini dapat membuat keuntungan yang didapatkan menjadi lebih rendah dibandingkan dengan model bisnis yang lain.

Dalam memilih model bisnis yang tepat, seorang calon pengusaha perlu mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing model bisnis. Sebagai dropshipper, Anda harus siap untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan kelebihan untuk menjalankan bisnis dengan sukses.

Perbedaan Konsinyasi dan Dropshipper

Perbedaan Konsinyasi dan Dropshipper

Konsinyasi dan dropshipper adalah dua model bisnis yang berbeda dengan cara kerja yang berbeda. Berikut adalah perbedaan antara konsinyasi dan dropshipper:

  1. Pengelolaan stok: Pada model bisnis konsinyasi, penjual akan mengambil produk dari pemasok dan menempatkannya di tempat mereka sendiri. Produk tersebut akan dijual dengan harga yang telah disepakati bersama, dan penjual akan membayar pemasok hanya jika produk tersebut terjual. Sedangkan pada model bisnis dropshipping, penjual tidak perlu menyimpan stok produk di tempat mereka sendiri, karena pengiriman produk dilakukan langsung oleh pemasok.
  2. Pengiriman produk: Pada model bisnis konsinyasi, penjual bertanggung jawab untuk mengirimkan produk ke pelanggan setelah produk tersebut terjual. Sedangkan pada model bisnis dropshipping, pemasok bertanggung jawab untuk mengirimkan produk langsung ke pelanggan setelah pesanan diterima.
  3. Keuntungan: Pada model bisnis konsinyasi, penjual mendapatkan keuntungan dengan mengambil selisih antara harga jual dengan harga yang telah disepakati bersama dengan pemasok. Sedangkan pada model bisnis dropshipping, penjual mendapatkan keuntungan dengan mengambil selisih antara harga jual dengan harga grosir yang telah dibayar kepada pemasok.
  4. Risiko: Pada model bisnis konsinyasi, risiko lebih tinggi bagi penjual, karena mereka harus membeli produk dari pemasok terlebih dahulu sebelum produk tersebut terjual. Sedangkan pada model bisnis dropshipping, risiko lebih tinggi bagi pemasok, karena mereka harus memastikan produk yang dikirimkan ke pelanggan sesuai dengan yang diinginkan.

Dalam memilih model bisnis yang tepat, seorang calon pengusaha perlu mempertimbangkan faktor-faktor seperti modal, risiko, keuntungan, dan pengelolaan stok. Masing-masing model bisnis memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk menjalankan bisnis.

Mana yang Lebih Baik, Konsinyasi atau Dropshipper?

Konsinyasi dan dropshipper memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga sulit untuk menentukan model bisnis yang lebih baik dari keduanya. Pilihan terbaik tergantung pada situasi dan kebutuhan individu.

Jika Anda memiliki modal yang cukup besar dan ingin memegang kendali atas pengelolaan stok, maka konsinyasi mungkin menjadi pilihan yang lebih baik. Dalam model bisnis konsinyasi, penjual dapat mengambil keuntungan dari selisih antara harga jual dan harga yang telah disepakati bersama dengan pemasok.

Namun, jika Anda memiliki modal yang terbatas dan ingin menghindari risiko pengelolaan stok, maka dropshipping mungkin menjadi pilihan yang lebih baik. Dalam model bisnis dropshipping, penjual tidak perlu menyimpan stok produk di tempat mereka sendiri, sehingga risiko kerugian lebih rendah. Selain itu, penjual juga dapat fokus pada pemasaran dan penjualan, karena pengiriman produk dilakukan langsung oleh pemasok.

Dalam memilih model bisnis yang tepat, seorang calon pengusaha perlu mempertimbangkan faktor-faktor seperti modal, risiko, keuntungan, dan pengelolaan stok. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan yang perlu dipertimbangkan dengan cermat sebelum memutuskan untuk memulai bisnis.

Kesimpulan

Konsinyasi dan dropshipper adalah dua model bisnis yang berbeda namun memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Konsinyasi memungkinkan penjual untuk mengambil keuntungan dari selisih antara harga jual dan harga yang telah disepakati bersama dengan pemasok, namun memerlukan modal yang cukup besar dan risiko pengelolaan stok yang lebih tinggi.

Sementara itu, dropshipping memungkinkan penjual untuk menghindari risiko pengelolaan stok dan fokus pada pemasaran dan penjualan, namun keuntungan yang diperoleh mungkin lebih kecil dan ada risiko keterlambatan pengiriman dari pemasok.

Pilihan terbaik tergantung pada situasi dan kebutuhan individu. Seorang calon pengusaha perlu mempertimbangkan faktor-faktor seperti modal, risiko, keuntungan, dan pengelolaan stok sebelum memutuskan untuk memulai bisnis. Dengan memahami perbedaan dan kelebihan serta kekurangan konsinyasi dan dropshipper, seseorang dapat memilih model bisnis yang paling sesuai untuk memulai bisnisnya.

Demikian yang dapat kami sampaikan mengenai perbedaan konsinyasi dan dropshipper, semoga menjadi manfaat. Selalu kunjungi Kawruhbasa.com agar tidak ketinggalan update artikel terbaru, atau ikuti kami di Google News.

Berita Terkait

10 Peluang Bisnis ing 2023 sing populer lan bakal mbatheni
Wednesday Addams Musim Pertama | Teaser Resmi | Netflix
Innovations in Business Models: Disruptive Technologies and Emerging Trends
5 Strategi Pemasaran Konten yang Efektif untuk Meningkatkan Bisnis Anda
10 Strategi Pemasaran Digital yang Harus Kamu Ketahui
3 Jenis Strategi Pemasaran untuk Meningkatkan Keuntungan Bisnis Anda
Manfaat Strategi Pemasaran: Panduan Lengkap untuk Meningkatkan Bisnis Anda
Tujuan Strategi Pemasaran: Mengapa Penting dan Bagaimana Menerapkannya?
Berita ini 271 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 11 September 2023 - 06:34 WIB

10 Peluang Bisnis ing 2023 sing populer lan bakal mbatheni

Rabu, 29 Maret 2023 - 05:10 WIB

Wednesday Addams Musim Pertama | Teaser Resmi | Netflix

Selasa, 28 Maret 2023 - 16:03 WIB

Innovations in Business Models: Disruptive Technologies and Emerging Trends

Rabu, 1 Maret 2023 - 10:51 WIB

5 Strategi Pemasaran Konten yang Efektif untuk Meningkatkan Bisnis Anda

Rabu, 1 Maret 2023 - 09:20 WIB

10 Strategi Pemasaran Digital yang Harus Kamu Ketahui

Rabu, 1 Maret 2023 - 08:24 WIB

3 Jenis Strategi Pemasaran untuk Meningkatkan Keuntungan Bisnis Anda

Selasa, 28 Februari 2023 - 19:49 WIB

Manfaat Strategi Pemasaran: Panduan Lengkap untuk Meningkatkan Bisnis Anda

Selasa, 28 Februari 2023 - 19:12 WIB

Tujuan Strategi Pemasaran: Mengapa Penting dan Bagaimana Menerapkannya?

Berita Terbaru

Aksara Jawa

Paramasastra Basa Jawa Baku jangkep aksara Jawi lan Sandhangane

Selasa, 28 Mei 2024 - 10:46 WIB

Aksara Jawa

Aksara Jawa: Penjelasan dan maknanya

Selasa, 28 Mei 2024 - 10:44 WIB

Artikel

Pengertian Kebudayaan menurut orang Jawa dan secara umum

Selasa, 28 Mei 2024 - 10:43 WIB

Bahasa Jawa

4 jenis Tembung Camboran Bahasa Jawa, pengertian dan contohnya

Senin, 27 Mei 2024 - 16:23 WIB

Bahasa Jawa

Keratabasa Bahasa Jawa yang populer sepanjang masa

Senin, 27 Mei 2024 - 16:23 WIB