Makna Kata Kelairan dalam Bahasa Jawa: Pemahaman atas Kelahiran Menurut Budaya Jawa

Avatar of Sonya Ruri

- Author

Tuesday, 27 May 2025 - 11:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

kawruhbasa.com – Bahasa Jawa dikenal kaya akan kosakata yang sarat makna dan filosofi. Salah satu kata yang sering ditemukan dalam berbagai teks maupun lisan adalah kelairan.

Dalam bahasa Jawa, kata ini memiliki hubungan erat dengan peristiwa penting dalam kehidupan manusia, yaitu kelahiran. Pemahaman terhadap kata ini tidak hanya sebatas arti literal, melainkan juga mencakup nilai-nilai budaya dan pandangan hidup masyarakat Jawa.

Artikel ini akan membahas secara komprehensif tentang arti kelairan dalam bahasa Jawa, konteks penggunaannya, serta kaitannya dengan budaya Jawa yang sarat akan simbol dan makna.

Arti Kelairan dalam Bahasa Jawa

Secara etimologis, kata kelairan berasal dari kata dasar lair dalam bahasa Jawa yang berarti lahir. Jika diberi imbuhan ke- dan -an, maka terbentuklah kata kelairan yang berarti proses atau keadaan ketika seseorang lahir ke dunia.

Dengan demikian, arti kelairan dalam bahasa Jawa adalah kelahiran. Kata ini digunakan untuk merujuk pada momen ketika bayi keluar dari rahim ibu dan mulai menjalani kehidupan di dunia nyata.

Meskipun terkesan sederhana, namun makna kelairan dalam budaya Jawa jauh lebih dalam daripada sekadar proses biologis.

Penggunaan Kata Kelairan dalam Kalimat

Dalam percakapan sehari-hari maupun dalam karya sastra Jawa, kata kelairan sering digunakan dalam berbagai bentuk kalimat, seperti:

  • Kelairan anakku tanggal lima Sura.
    (Kelahiran anakku tanggal lima bulan Sura.)
  • Tanggal kelairané wis kacethet neng buku keluarga.
    (Tanggal kelahirannya sudah dicatat dalam buku keluarga.)
  • Kelairané kembar, lanang loro.
    (Kelahirannya kembar, dua laki-laki.)

Dari beberapa contoh di atas, terlihat bahwa kata ini memiliki fleksibilitas tinggi dalam berbagai situasi dan tidak mengalami perubahan makna secara signifikan.

Nilai Budaya dalam Konsep Kelairan

Masyarakat Jawa memandang kelahiran sebagai salah satu tahapan penting dalam siklus kehidupan manusia.

Tidak heran jika kata kelairan dalam bahasa Jawa juga mengandung nilai-nilai spiritual dan adat istiadat yang kuat. Dalam tradisi Jawa, kelahiran disambut dengan berbagai upacara, seperti:

  • Tingkeban: Upacara yang dilakukan saat usia kandungan mencapai tujuh bulan. Tujuannya adalah memohon keselamatan bagi ibu dan calon bayi.
  • Brokohan: Tradisi yang dilakukan segera setelah bayi lahir. Biasanya diisi dengan doa-doa dan pembagian makanan kepada tetangga sebagai bentuk syukur.
  • Puputan: Upacara saat tali pusar bayi lepas. Dalam kepercayaan Jawa, momen ini menandai bahwa bayi telah siap memasuki kehidupan sosial.

Semua upacara tersebut menunjukkan bahwa kelairan bukan sekadar lahir secara fisik, tetapi juga simbol dimulainya kehidupan yang penuh makna dalam masyarakat.

Filosofi Jawa tentang Kelahiran

Dalam falsafah Jawa, hidup manusia digambarkan sebagai sebuah siklus yang terdiri dari lahir (kelairan), hidup (urip), dan mati (pati).

Ketiga unsur ini merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, kelairan dianggap sebagai awal perjalanan hidup yang harus dijalani dengan bijaksana.

Ada pula pepatah Jawa yang menyebut:
“Wong urip iku saka kelairan nganti pati, kudu migunani tumrap liyan.”
(Orang hidup itu dari kelahiran hingga mati, harus bermanfaat bagi orang lain.)

Ungkapan tersebut menggambarkan betapa pentingnya momen kelairan sebagai titik awal tanggung jawab seseorang dalam kehidupan sosial.

Kesalahan Umum dalam Penggunaan Kata Kelairan

Meskipun kata ini cukup umum digunakan, namun tidak sedikit yang keliru dalam menuliskannya. Beberapa kesalahan yang sering muncul antara lain:

  • Menulis kelairan sebagai kelahiran dalam konteks bahasa Jawa.
  • Menggabungkannya dengan kata-kata bahasa Indonesia yang membuatnya kurang tepat secara gramatikal Jawa.
  • Menganggap kelairan sebagai kata baku dalam bahasa Indonesia.

Perlu dipahami bahwa kelairan adalah bentuk khas dalam bahasa Jawa, bukan bentuk serapan atau turunan dari bahasa lain. Oleh karena itu, penggunaannya sebaiknya disesuaikan dengan konteks kebahasaan yang tepat.

Perbandingan dengan Bahasa Indonesia

Dalam bahasa Indonesia, padanan kata kelairan adalah kelahiran. Namun, perlu dicatat bahwa makna kulturalnya berbeda.

Dalam bahasa Indonesia, kelahiran cenderung dimaknai secara biologis atau administratif, seperti tercatat dalam akta lahir.

Sedangkan dalam bahasa Jawa, kelairan mengandung nuansa spiritual, budaya, dan bahkan sosial yang lebih dalam.

Hal ini mencerminkan perbedaan cara pandang antara bahasa Jawa yang kental dengan nilai-nilai budaya dan bahasa Indonesia yang lebih fungsional dan administratif.

Relevansi Kelairan di Era Modern

Meskipun zaman telah berubah, nilai-nilai yang terkandung dalam kata kelairan masih tetap relevan. Masyarakat Jawa modern tetap menjaga tradisi-tradisi yang berkaitan dengan kelahiran, meskipun telah disesuaikan dengan kondisi masa kini.

Hal ini menunjukkan bahwa kearifan lokal masih memiliki tempat di tengah arus globalisasi dan modernisasi.

Bahkan, di era digital seperti sekarang, banyak keluarga Jawa yang tetap mengadakan upacara tingkeban atau brokohan sambil mendokumentasikannya dalam bentuk digital untuk dibagikan kepada kerabat yang jauh.

Baca juga: Memahami Arti Kekembangan dalam Bahasa Jawa: Makna dan Peranannya dalam Budaya

Kelairan dalam bahasa Jawa berarti kelahiran, namun maknanya tidak sebatas proses biologis. Kata ini mencerminkan sebuah peristiwa penting yang dipandang sakral dan penuh nilai oleh masyarakat Jawa. Dalam setiap kelairan, tersimpan harapan, doa, dan simbol kehidupan yang kaya makna.

Sebagai bagian dari khazanah bahasa Jawa, kata ini patut dipahami dan dilestarikan agar generasi mendatang tetap menghargai budaya serta falsafah luhur yang terkandung di dalamnya.

Berita Terkait

Arti Lestari dalam Bahasa Jawa: Makna Abadi dalam Budaya dan Falsafah Jawa
Arti Lengen dalam Bahasa Jawa: Memahami Makna Lengan dalam Konteks Budaya Jawa
Arti Lenga dalam Bahasa Jawa: Lebih dari Sekadar Minyak dalam Kehidupan Sehari-hari
Arti Lemu dalam Bahasa Jawa: Simbol Kesejahteraan dan Makna Budaya
Arti Lemah dalam Bahasa Jawa: Menyelami Makna Tanah dalam Filosofi Kehidupan
Arti Lelara dalam Bahasa Jawa: Penyakit sebagai Simbol Keseimbangan Hidup
Arti Mlebu dalam Bahasa Jawa: Makna Masuk dan Fungsinya dalam Budaya Sehari-hari
Arti Leren dalam Bahasa Jawa: Makna Istirahat dan Nilai Budaya yang Dikandungnya
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Friday, 11 July 2025 - 10:09 WIB

Arti Lestari dalam Bahasa Jawa: Makna Abadi dalam Budaya dan Falsafah Jawa

Friday, 11 July 2025 - 10:05 WIB

Arti Lengen dalam Bahasa Jawa: Memahami Makna Lengan dalam Konteks Budaya Jawa

Friday, 4 July 2025 - 10:27 WIB

Arti Lenga dalam Bahasa Jawa: Lebih dari Sekadar Minyak dalam Kehidupan Sehari-hari

Friday, 4 July 2025 - 10:25 WIB

Arti Lemu dalam Bahasa Jawa: Simbol Kesejahteraan dan Makna Budaya

Friday, 4 July 2025 - 10:20 WIB

Arti Lemah dalam Bahasa Jawa: Menyelami Makna Tanah dalam Filosofi Kehidupan

Berita Terbaru

Loker Guru Bahasa Jawa

Loker Fresh Graduate Kesempatan Kerja Guru Bahasa Jawa Tahun 2025

Thursday, 10 Jul 2025 - 09:52 WIB

Loker Guru Bahasa Jawa

Rekrutmen Terbaru Loker Terbaru Guru Bahasa Jawa Tahun 2025

Thursday, 10 Jul 2025 - 08:52 WIB

Loker Guru Bahasa Jawa

Daftar Kerja Sekarang Karir Terbaru Guru Bahasa Jawa Tahun 2025

Thursday, 10 Jul 2025 - 07:52 WIB