kawruhbasa.com – Bahasa Jawa memiliki banyak kosakata yang kaya akan makna dan filosofi. Salah satu kata yang sering digunakan dalam percakapan adalah “goroh.” Kata ini memiliki arti yang cukup penting dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa karena berhubungan dengan kejujuran dan integritas.
Daftar isi artikel
Makna Goroh dalam Bahasa Jawa
Dalam percakapan sehari-hari, “goroh” merujuk pada tindakan menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam bahasa Indonesia, kata ini dapat diartikan sebagai berbohong atau berkata tidak jujur. Istilah ini sering digunakan untuk menegur atau mengingatkan seseorang agar lebih berhati-hati dalam berbicara.
Kejujuran merupakan nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam budaya Jawa. Oleh karena itu, tindakan yang tidak sesuai dengan kenyataan sering kali mendapatkan respons negatif dari masyarakat. Seseorang yang dikenal suka berkata tidak benar dapat kehilangan kepercayaan dari orang-orang di sekitarnya.
Perbedaan Goroh dengan Kata Sejenis dalam Bahasa Jawa
Selain “goroh,” ada beberapa kata lain yang memiliki arti serupa, namun dengan nuansa yang berbeda, seperti:
- Ngapusi – Kata ini memiliki arti hampir sama dengan “goroh,” tetapi lebih sering digunakan dalam konteks seseorang menipu untuk kepentingan pribadi.
- Menthung – Istilah ini menggambarkan tindakan membesar-besarkan sesuatu hingga tidak sesuai fakta.
- Bohong – Digunakan dalam berbagai dialek Jawa, meskipun istilah ini lebih dekat dengan bahasa Indonesia.
Goroh dalam Peribahasa Jawa
Bahasa Jawa kaya akan peribahasa dan ungkapan yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Beberapa peribahasa yang berkaitan dengan kejujuran dan kebohongan antara lain:
- Goroh iku cecak lali karo tembok – Artinya seseorang yang sering berbohong akan lupa pada kebenaran yang sesungguhnya.
- Wong sing goroh bakal kepleset ilate dewe – Ungkapan ini menekankan bahwa kebohongan akan terungkap dengan sendirinya.
Dampak Goroh dalam Kehidupan Sosial
Dalam budaya Jawa, seseorang yang tidak jujur bisa kehilangan rasa hormat dari masyarakat. Berbohong dalam situasi tertentu bisa dianggap sebagai pelanggaran norma sosial yang berat. Kepercayaan adalah aspek penting dalam hubungan sosial, baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun pergaulan.
Jika seseorang sering tidak berkata jujur, orang-orang di sekitarnya akan sulit mempercayai ucapannya. Hal ini dapat menyebabkan masalah dalam hubungan interpersonal, bahkan bisa berdampak pada kehidupan profesional seseorang.
Bagaimana Masyarakat Jawa Menghadapi Goroh?
Sebagai masyarakat yang memegang teguh nilai moral dan etika, orang Jawa memiliki cara tersendiri dalam menghadapi orang yang tidak jujur:
- Menegur dengan Halus – Dalam budaya Jawa, seseorang yang tidak jujur biasanya diberi teguran secara tidak langsung agar ia menyadari kesalahannya tanpa merasa dipermalukan.
- Memberikan Wejangan atau Nasihat – Orang tua atau sesepuh sering memberikan wejangan agar seseorang tidak mengulangi kebiasaannya berkata tidak benar.
- Menjaga Jarak – Jika seseorang dikenal sering berkata tidak sesuai kenyataan, masyarakat biasanya akan menjaga jarak dan menghindari interaksi yang terlalu dekat.
Cara Menghindari Kebiasaan Berbohong
Agar dapat menjaga kepercayaan dari orang-orang di sekitar, seseorang harus membiasakan diri untuk selalu berkata jujur. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:
- Selalu Berkata Apa Adanya – Mengungkapkan kebenaran meskipun sulit lebih baik daripada menyampaikan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan.
- Berpikir Sebelum Berbicara – Dengan mempertimbangkan setiap perkataan, seseorang bisa menghindari ucapan yang tidak sesuai dengan kenyataan.
- Menjaga Konsistensi – Orang yang jujur biasanya konsisten dalam perkataannya, berbeda dengan mereka yang sering berkata tidak benar.
Baca juga: Arti Golek, membantu kita memahami nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat Jawa
Dalam budaya Jawa, “goroh” memiliki arti yang lebih dalam dari sekadar tidak jujur. Kata ini berkaitan dengan nilai moral yang sangat dijunjung tinggi. Seseorang yang sering berkata tidak sesuai kenyataan akan kehilangan kepercayaan dan rasa hormat dari orang-orang di sekitarnya.
Untuk menjaga hubungan sosial yang baik, penting untuk selalu menjunjung tinggi nilai kejujuran. Dengan memahami makna kata ini dalam konteks budaya Jawa, seseorang bisa lebih berhati-hati dalam berbicara dan menjaga integritas dalam kehidupan sehari-hari.