Arti gelem bukan sekadar menunjukkan kesediaan

Avatar of Sonya Ruri

- Author

Friday, 14 March 2025 - 10:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

kawruhbasa.com – Bahasa Jawa memiliki banyak kosakata yang kaya akan makna serta filosofi. Salah satu kata yang cukup sering digunakan dalam percakapan sehari-hari adalah “gelem.” Meskipun terdengar sederhana, kata ini memiliki konteks yang beragam tergantung situasi penggunaannya.

Pengertian Gelem dalam Bahasa Jawa

Secara harfiah, “gelem” berarti “mau” atau “bersedia” dalam bahasa Indonesia. Kata ini digunakan untuk menunjukkan kesediaan seseorang dalam melakukan sesuatu. Namun, dalam berbagai situasi, “gelem” bisa memiliki makna lebih luas, tergantung pada nada bicara dan konteks penggunaannya.

Makna dan Penggunaan Gelem dalam Berbagai Situasi

  1. Kesediaan Melakukan Sesuatu
    “Gelem” sering digunakan untuk menunjukkan kesiapan atau keinginan seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Misalnya, dalam percakapan sehari-hari:
    • “Kowe gelem mbantu aku ora?” (Apakah kamu mau membantu saya?)
    • “Aku gelem melu lelungan karo kowe.” (Saya bersedia ikut bepergian dengan kamu.)
  2. Penolakan Halus
    Dalam beberapa situasi, “gelem” bisa digunakan dalam bentuk negatif untuk menolak suatu tawaran dengan halus:
    • “Aku ora gelem mangan saiki, aku wis wareg.” (Saya tidak mau makan sekarang, saya sudah kenyang.)
  3. Ungkapan Kesungguhan atau Komitmen
    Kata “gelem” juga bisa menandakan kesungguhan dalam menjalankan sesuatu. Contohnya:
    • “Sopo gelem sinau, mesthi pinter.” (Siapa yang mau belajar, pasti pintar.)
    • “Kowe gelem janji ora ngapusi maneh?” (Apakah kamu bersedia berjanji tidak berbohong lagi?)
  4. Penggunaan dalam Konteks Humor
    Dalam budaya Jawa, “gelem” kadang digunakan dengan nada bercanda, misalnya dalam percakapan antara teman:
    • “Gelem dikon njupuk banyu?” (Mau disuruh mengambil air?)
    • “Gelem-gelem, tapi kok ra budhal-budhal?” (Katanya mau, tapi kok tidak berangkat-berangkat?)

Filosofi Gelem dalam Kehidupan Masyarakat Jawa

Dalam budaya Jawa, sikap “gelem” atau kesediaan memiliki arti mendalam. Orang yang memiliki sikap ini cenderung lebih terbuka terhadap perubahan dan lebih mudah menjalin hubungan baik dengan orang lain. Berikut beberapa nilai yang terkandung dalam konsep “gelem”:

  • Kerendahan Hati: Seseorang yang mudah berkata “gelem” dalam konteks positif sering dianggap rendah hati dan mudah diajak bekerja sama.
  • Sikap Tanggung Jawab: Saat seseorang berkata “gelem,” itu juga menunjukkan kesiapan untuk menjalankan tugas atau tanggung jawabnya.
  • Keterbukaan Terhadap Pembelajaran: Dalam dunia pendidikan dan pekerjaan, sikap “gelem” dapat menjadi indikator seseorang yang terbuka terhadap ilmu dan pengalaman baru.

Hubungan Kata Gelem dengan Ungkapan Lain dalam Bahasa Jawa

Selain “gelem,” ada beberapa kata lain dalam bahasa Jawa yang sering digunakan dalam konteks serupa, antara lain:

  • Karep: Menunjukkan keinginan atau niat seseorang.
  • Purun: Memiliki arti mirip dengan “gelem,” tetapi sering digunakan dalam konteks lebih formal atau sopan.
  • Lila: Menunjukkan kesediaan dengan keikhlasan, bukan hanya sebatas “mau.”

Baca juga: Arti gelang sekadar perhiasan

Kata “gelem” dalam bahasa Jawa bukan sekadar menunjukkan kesediaan, tetapi juga mencerminkan filosofi kehidupan masyarakat Jawa yang penuh kerendahan hati, keterbukaan, dan komitmen. Dalam penggunaannya, kata ini bisa dipakai dalam berbagai situasi, baik dalam percakapan sehari-hari maupun dalam konteks budaya yang lebih luas.

Referensi

  • Sumber wawancara dengan penutur asli bahasa Jawa.
  • Buku “Filosofi Bahasa Jawa dalam Kehidupan Sehari-hari” oleh Bambang Suryono.
  • Kamus Bahasa Jawa-Indonesia oleh Balai Bahasa Yogyakarta.

Berita Terkait

Arti Lestari dalam Bahasa Jawa: Makna Abadi dalam Budaya dan Falsafah Jawa
Arti Lengen dalam Bahasa Jawa: Memahami Makna Lengan dalam Konteks Budaya Jawa
Arti Lenga dalam Bahasa Jawa: Lebih dari Sekadar Minyak dalam Kehidupan Sehari-hari
Arti Lemu dalam Bahasa Jawa: Simbol Kesejahteraan dan Makna Budaya
Arti Lemah dalam Bahasa Jawa: Menyelami Makna Tanah dalam Filosofi Kehidupan
Arti Lelara dalam Bahasa Jawa: Penyakit sebagai Simbol Keseimbangan Hidup
Arti Mlebu dalam Bahasa Jawa: Makna Masuk dan Fungsinya dalam Budaya Sehari-hari
Arti Leren dalam Bahasa Jawa: Makna Istirahat dan Nilai Budaya yang Dikandungnya
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Friday, 11 July 2025 - 10:09 WIB

Arti Lestari dalam Bahasa Jawa: Makna Abadi dalam Budaya dan Falsafah Jawa

Friday, 11 July 2025 - 10:05 WIB

Arti Lengen dalam Bahasa Jawa: Memahami Makna Lengan dalam Konteks Budaya Jawa

Friday, 4 July 2025 - 10:27 WIB

Arti Lenga dalam Bahasa Jawa: Lebih dari Sekadar Minyak dalam Kehidupan Sehari-hari

Friday, 4 July 2025 - 10:25 WIB

Arti Lemu dalam Bahasa Jawa: Simbol Kesejahteraan dan Makna Budaya

Friday, 4 July 2025 - 10:20 WIB

Arti Lemah dalam Bahasa Jawa: Menyelami Makna Tanah dalam Filosofi Kehidupan

Berita Terbaru

Loker Guru Bahasa Jawa

Loker Fresh Graduate Kesempatan Kerja Guru Bahasa Jawa Tahun 2025

Thursday, 10 Jul 2025 - 09:52 WIB

Loker Guru Bahasa Jawa

Rekrutmen Terbaru Loker Terbaru Guru Bahasa Jawa Tahun 2025

Thursday, 10 Jul 2025 - 08:52 WIB

Loker Guru Bahasa Jawa

Daftar Kerja Sekarang Karir Terbaru Guru Bahasa Jawa Tahun 2025

Thursday, 10 Jul 2025 - 07:52 WIB