Bahasa Jawa merupakan salah satu bahasa daerah yang kaya akan filosofi dan makna mendalam. Dalam keseharian masyarakat Jawa, terdapat banyak kata atau istilah yang mengandung ajaran hidup serta nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu istilah yang unik dan menarik untuk dibahas adalah “Calathu”. Kata ini mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, tetapi memiliki makna mendalam dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Daftar isi artikel
Apa Itu Calathu?
Secara etimologis, “Calathu” berasal dari bahasa Jawa yang berarti “berbicara” atau “bertutur kata”. Namun, dalam pemaknaannya, calathu bukan sekadar berbicara biasa, tetapi lebih mengacu pada cara seseorang menyampaikan kata-kata dengan penuh kebijaksanaan, kehati-hatian, dan etika yang tinggi.
Dalam budaya Jawa, berbicara bukan sekadar mengeluarkan kata-kata, tetapi juga harus mempertimbangkan nilai kesopanan, kehalusan bahasa, dan dampaknya terhadap orang lain. Oleh karena itu, konsep calathu erat kaitannya dengan kesantunan dalam bertutur kata serta bagaimana seseorang menjaga lisan agar tidak menyakiti perasaan orang lain.
Filosofi Calathu dalam Kehidupan Orang Jawa
Orang Jawa sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh atau tata krama dalam berkomunikasi. Konsep calathu mengajarkan bahwa setiap perkataan harus mengandung makna yang baik dan bijaksana. Berikut beberapa filosofi penting yang terkandung dalam calathu:
1. Tepa Selira (Empati dalam Bertutur)
Calathu menekankan pentingnya menempatkan diri dalam posisi orang lain sebelum berbicara. Orang Jawa percaya bahwa kata-kata yang diucapkan dapat membawa dampak besar, baik positif maupun negatif, sehingga perlu berhati-hati dalam memilih diksi dan nada bicara.
2. Ajining Diri Saka Lathi (Harga Diri Tergantung pada Perkataan)
Dalam budaya Jawa, seseorang dinilai dari bagaimana ia berbicara. Jika seseorang mampu menjaga perkataan dengan baik, maka ia akan dihormati oleh orang lain. Sebaliknya, jika seseorang sering berkata kasar atau tidak sopan, maka ia akan kehilangan kehormatan dan kepercayaan dari lingkungannya.
3. Basa-Basi yang Mengandung Makna
Masyarakat Jawa dikenal dengan kebiasaan berbasa-basi, tetapi bukan dalam arti negatif. Basa-basi dalam budaya Jawa sering digunakan sebagai bentuk penghormatan dan pengantar sebelum masuk ke pembicaraan inti. Hal ini merupakan bagian dari calathu, di mana komunikasi dilakukan dengan halus dan tidak langsung to the point agar tidak menyinggung perasaan lawan bicara.
4. Menjaga Perasaan Orang Lain
Calathu juga mengajarkan pentingnya menjaga perasaan orang lain dalam berbicara. Dalam budaya Jawa, ada prinsip “ora ilok” atau tidak pantas jika seseorang berbicara terlalu blak-blakan atau menyakiti perasaan orang lain dengan perkataan yang kasar.
Calathu dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam kehidupan sehari-hari, konsep calathu masih diterapkan oleh masyarakat Jawa dalam berbagai situasi, seperti:
- Dalam Lingkungan Keluarga: Orang tua selalu mengajarkan anak-anaknya untuk berbicara dengan sopan kepada yang lebih tua. Misalnya, penggunaan bahasa krama inggil saat berbicara dengan orang tua atau orang yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan.
- Dalam Lingkungan Sosial: Seseorang diharapkan bisa berbicara dengan santun saat berinteraksi dengan orang lain, baik dalam lingkungan kerja, masyarakat, maupun pergaulan sehari-hari.
- Dalam Dunia Politik dan Pemerintahan: Para pemimpin di Jawa, baik dari tingkat desa hingga nasional, sering menggunakan gaya berbicara yang halus dan penuh filosofi untuk menyampaikan pesan tanpa menimbulkan konflik.
Baca juga: Pengertian Buyar dalam Bahasa Jawa: Sebuah Konsep yang Mendalam dan Kaya Makna
Calathu bukan sekadar berbicara, tetapi mencerminkan karakter, kepribadian, serta kebijaksanaan seseorang dalam berkomunikasi. Konsep ini mengajarkan bahwa setiap kata yang diucapkan harus memiliki tujuan yang baik, tidak menyakiti orang lain, serta menunjukkan rasa hormat kepada sesama. Dalam era digital yang serba cepat dan penuh informasi seperti sekarang, memahami dan menerapkan konsep calathu dapat membantu kita untuk lebih bijak dalam berkomunikasi, baik secara langsung maupun melalui media sosial.
Dengan demikian, calathu bukan hanya sekadar bagian dari bahasa Jawa, tetapi juga sebuah nilai budaya yang patut dipertahankan dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Karena sejatinya, tutur kata yang baik adalah cerminan dari hati dan pikiran yang luhur.